Bukan jodohku

 

Hari ini 6 September, sebulan lagi tanggal 6 Oktober, aku akan genap berumur 30 tahun. Oh… sebuah angka yang lebih dari cukup untuk menikah. Aku telah melewati hari-hari sepi yang panjang, kesepian yang sering menusuk jantungku. Tetapi apalah dayaku, bukankah takdir ada pada genggaman tangan-Nya. Dan Allah jua yang mengatur bahwa kehidupan makhluk dan hamba-Nya. Dia ciptakan berpasang-pasangan, dan harus selalu kusadari dengan ikhlas bahwa pasangan bagi seorang Arini memang belum saatnya datang.

Masih kuingat betul kejadian lima tahun silam, meski terasa getir, aku harus tabah menyaksikan pernikahan Layla, seorang sahabat yang karena dia lebih muda tiga tahun dari aku, maka ia sudah seperti adikku sendiri. Layla menikah dengan Kak Hakim seorang ikhwan temanku berjuang dan berjihad menegakkan kalimatullah.

Aku dan Kak Hakim serta teman-teman yang lain berada dalam satu tim, menghidup-hidupkan pengajian remaja, ibu-ibu dan lain-lain di masjid-masjid. Kami mencari para pendukung yang bisa mempermudah jalannya dakwah kami. Meski tak pernah terungkap antara aku dan Kak Hakim begitu banyak terjadi kerja sama dan akhirnya tentu timbul “sebuah perasaan”. Namun aku terus berjuang, agar perasaan itu terus terjaga. Alasanku jelas tentu karena aku takut terjatuh pada dosa dan kemaksiatan. Seiring waktu … jarak yang sesungguhnyapun kian membentang.

Suatu malam yang basah, Farida sahabat karibku mengunjungiku. Dia adalah sepupu kak Hakim. Ia sampaikan salam dan ucapan selamat berjuang menegakkan kalimatullah. Ada yang berbinar dalam hatiku, namun aku berjuang agar kebahagiaan yang sangat ini jangan sampai merona di wajahku. Akhirnya semua diakhiri dengan harapan agar tidak ada yang berubah dari diriku. Aku percaya pada Farida dan berharap semua berakhir pada Farida dan bukan siapapun.

Malam berlalu begitu menyiksaku, ada haru, bahagia serta rasa takut yang sangat. Aku genggam handphone di tangan, begitu ingin kutulis SMS terindah untuknya. Tapi …. Tidak !!! Aku harus tetap menjadi seorang muslimah yang baik, menjaga diri dan tak terjebak oleh kemaksiatan. Cinta adalah anugerah terindah-Nya. Tapi nafsu senantiasa datang bagai prahara memporak-porandakan segalanya. Akhirnya hanya butir kepedihan yang segera mewakili seluruh perasaan di hati ini. Air mata yang demikian sulit untuk diterjemahkan oleh kalimat seperti apapun juga. Ya Allah seandainya dia adalah jodohku …. .

Beberapa tahun kemudian … Allah berkehendak memberiku anugerah, aku diterima mengajar di SDIT “Secercah Cahaya”. Sungguh aku bersyukur dan bahagia hidup dan melewati hari-hari bersama anak-anak itu. Belajar bersama mereka serta mencari makna hidup yang sesungguhnya. Dan isya Allah kiprahku di arena dakwah tetap kupertahankan … meski sesibuk apapun. Kadangkala kenangan bersama Kak Hakim masih terlintas … tapi … aku sadar apapun bisa terjadi. Dan yang dikehendaki Allah adalah yang terbaik bagiku. Hingga suatu sore … saat kami tim dakwah putri Ar Risalah sedang ngumpul di teras rumah Karima salah satu sahabatku seperjuangan kami… saat itu kelabu bergelayut menyelimuti kota kecil kami. Kami minum teh hangat bersama, karena akhir-akhir ini kami memiliki kesibukan yang berbeda sehingga tidak banyak punya waktu untuk bersama. “Eh … kaliyan tahu tidak Kak Hakim mau meried lho …” Kata Karima santai dan lepas tanpa beban. Gelas yang kupegang belum lagi menyentuh bibirku … tapi insya Allah semua dari diriku masih tetap dalam ketenangan.

“ … Ustadz Hadi menjadohkannya dengan Layla putri Ustadz Haydar … “ lanjut Karima lagi. Semua yang hadir tidak terlihat bagaimana atau apa semua menyambut berita itu dengan bahagia. Dan insya Allah juga aku “Ariyani” …. Mbak Ariyani … atau ustadzah Ariyani. Ustadz Hadi adalah ayahku. Aku selalu menghormati beliau terhadap keputusan beliau. Dan Layla, sudah seperti adikku sendiri, aku begitu menyayanginya. Kak Hakim adalah santri kesayangan ayah, jadi ayahku akan berusaha memberikan yang terbaik bagi Kak Hakim. Namun begitu aku tetap hambaMu yang lemah, sepandai apapun aku menepis kepedihan ini … apa yang dihatiku tetap tak terlukiskan. Ini adalah kehendak-Nya dan siapapun tak ada yang bisa dipersalahkan … apalagi untuk menyalahkan ayahku oh … tidak , itu tidak akan kulakukan.

Di depan keluargaku … aku harus tetap berjuang untuk bersikap paling manis. Seperti pagi ini saat kami makan bersama … “Aryani … saat ini giliran Layla dan Hakim … . Ayah berharap kau akan segera menyusul mereka. Banyak berdo’a dan dekat pada Allah ya …” Kata ayahku.

“Insya Allah … mohon selalu doa ayah dan ibu …” Jawabku. Subhanallah Layla, betapa beruntungnya nasibmu. Aku mengemas kepedihan dalam hatiku dengan senyum tak pernah sedikitpun aku kelihatan terluka. Meski berbagai galau menyerbuku tanpa ampun.

Hari-haripun terlewat “seolah” begitu panjang. Tidak lama lagi Kak Hakim dan Layla akan segera mengarungi sebuah bahtera kehidupan. Layla seorang akhwat yang cantik dan cerdas, ia sungguh pantas mendapatkannya. Oh God … setiap kali hal itu terlintas, luka di hati tak terelakkan lagi. HP ku berderit, ada sebuah message di sana. “Ass …. Kak Ani, aku takut sekali, Bantu Layla dong”. Ada sebuah kegetiran membaca SMS dari Layla, tapi aku tahu, ia tak pernah bermaksud menyakiti hatiku. Maka segera kubalas sms-smsnya dengan ucapan selamat, iringan do’a serta nasehat special untuknya. Layla kelihatan bahagia, terpancar dari setiap kata yang dikirimkan. Dan akhirnya ia memintaku untuk menemaninya belanja untuk “persiapan” pada suatu hari yang telah kami sepakati.

Langit kelam, gugusan bintang tak kelihatan menghias langit. Hanya angin yang menderu menawarkan tumpukan lara dalam kesunyian. Aku duduk didepan meja. Di hadapanku setumpuk tugas dari sekolah. Berdampingan dengan sebuah bingkai fotoku bersama anak-anak kecintaanku di SDIT “Secercah Cahaya”. “Anak-anakku, cintaku … kalian begitu berarti bagiku”. Aku sadar meski berat hari-hari yang mesti kulewati, berbagai duka dan cobaan selalu datang silih berganti. Tapi saat memasuki gerbang sekolah dan melewati hari-hari bersama anak-anakku, aku selalu memiliki harapan serta semangat yang baru. Kenangan-kenangan bersama tim dakwah Ar Risalah kembali berputar. “Flash Back”, teringat betul kegigihan dan perjuangan Kak Hakim. Semangat yang seolah tak pernah padam. Serta daya juang yang tiada mengenal letih dan lelah. Begitu banyak hal, pelajaran serta ilmu yang kuterima dalam tim ini. Karena usaha Kak Hakim serta semuanya. Kini pengajian dan belajar Al Qur’an telah mewarnai daerah kami dan juga daerah-daerah yang lain. Semua itu telah menyentuh “perasaanku” sebagai seorang perempuan. Tapi segera kutepis semuanya. Karena tidak lama lagi Layla akan memilikinya. Derai air mataku tak tertahan lagi … mengalir membasahi tumpukan buku-buku anak-anakku, segera kususut dengan ujung jilbabku.

Hari yang melelahkan. Usai sudah tugasku menemani Layla berbelanja. Sungguh tak pernah kulihat Layla sebahagia hari ini. Kemudian kamipun berpisah. Layla berpesan agar aku datang pada hari “H” pernikahannya. Aku berjalan gontai. Meski tak seorangpun tahu (Kecuali Farida tentu saja) … rasanya lemas sekali seluruh persendianku. Aku sengaja mampir ke taman bacaan islami “Raudhoh”. Dadaku berdebar, ditempat inilah dahulu tim dakwah Ar Risalah menghabiskan waktu untuk membaca. Teringat betul dulu kak Hakim paling serius dan sering berjam-jam tenggelam dalam bacaannya. Setelah menemui petugas kuambil dua buah buku. Segera kubuka lembar demi lembar buku ditanganku. Sesaat kupejamkan mataku dan kuhela napas panjang, melepas beban di hati.

Tiba-tiba dari arah belakang … “Assalamu ‘alaikum ….” Aku tertegun tak segera menyahut. Sungguh aku sadar, aku pernah begitu sering dekat dengan suara ini … oh pelan dan pasti ku tengok ke belakang. Dan setelah melihat sosoknya akupun berdiri, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, serta kujawab salam darinya. Dalam sekejap putaran waktu seolah berhenti. Benda-benda disekitarku seolah diam. Bahkan angin yang mendesaupun berhenti bernafas …. .

“Ukhti Ani sendirian saja disini ?” tanyanya kemudian.

“Ini … sekedar mampir, tadi dari mengantar Layla belanja …”, jawabku

“Begitu ya …” jawabnya datar.

“Kak Hakim selamat ya … semoga menjadi kelurga yang diberkahi Allah”, lanjutku

“Terima kasih. Dan maafkan saya ukhti …” lanjutnya penuh penyesalan.

Atas apa Kak Hakim ? Saya kira tidak ada yang perlu dimaafkan”

“Atas segala hal yang membuat ukhti Ani kecewa dan tidak berkenan”

Aku diam, aku tidak tahu lagi apa yang mesti kulakukan selain segera berlari mengambil langkah seribu. Suhu badanku tiba-tiba menjadi panas, tangan dan jemariku membeku. Segera kuucapkan salam dan mohon diri untuk pulang. Sebelum ada orang lain yang memergoki kami serta timbul fitnah yang tidak diinginkan.

Sampai di rumah, kutumpahkan seluruh kesedihan di hatiku pada bantalku yang tak bersalah. Air mataku mengalir menganak sungai. Kuuntai dzikir mengingat-Nya. Kucoba menenangkan jiwa ragaku dengan menyerahkan seluruh persoalan kepada Allah dzat yang Maha Bijaksana. Ya Allah kuatkan hatiku karena dia memang bukan jodohku.

Sragen, 20 Nopember 2007

Satu Tanggapan

  1. Subhanallah, indah sekali menjaga iman dan akhlak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: