Pernikahan yang menjanjikan

“Cinta yang penuh nafsu adalah dahaga yang tak terobati”

(Filosofi Khalil Gibran)

Dia (Allah) yang memiliki segala cinta, keagungan dan kesempurnaan. Allahlah yang menciptakan perasaan indah di dalam jiwa puisi-puisi yang tidak semua lahir menjadi kata-kata. Ketika segalanya tetap terjaga dalam “kebaikan”… Sungguh ia jauh dari cela dan keburukan, dan yang menjadi manusia terpuruk dalam dosa, menjadikan ia kehilangan arah langkahnya kemudian jatuh. Padahal yang buruk dan amat jauh dari keridloan-Nya. Kesemuanya itu terjadi ketika kesesatan nafsu telah lebih ia kedepankan daripada cahaya keimanan dan kesadarannya menjadi hamba Allah yang bertakwa.

زُيَّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ,ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيوةِ الدُّنْيَا ,وَاللهُ عِنْدَه حُسْنُ الْمَابِ )14(

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (Syurga)”. ( Ali Imran : 14 )

Dunia ini, harta yang banyak dan para wanita dengan segala keadaannya, kecantikan, kelembutan dan kehalausannya senantiasa menjadikan perasaan seorang laki-laki dilanda galau yang tak berkesudahan. Bahkan ketika perasaan terpikatnya berlebihan, ia tak sadar kehilangan arah dan menempuh jalan-jalan yang keliru. Ia bisa menjadi telah gila. Tapi tak pernah mengerti di mana letak kegilaannya. Dia mabuk dalam waktu yang tak tertentu kesadarannya. Jika keimanan masih di jiwa, dan kita selalu berharap tak pernah ditinggalkannya, maka hendaknyalah memilih jalan yang lebih lurus dan bersih.

“Katakanlah kepada seorang laki-laki yang beriman : hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kehormatannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengerahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya”. (An Nuur : 30-31)

Allah telah memerintahkan dengan kasih-Nya sebagai sang Khaliq, karena Allah lebih mengetahui segala keadaan manusia , agar mereka “menahan pandangan” dan “memelihara kehormatannya”. Kedua kalimat ini sungguh berkaitan erat karena setiap perbuatan yang menjadikan seseorang cela dan hilang harga diri serta kehormatannya pastilah berawal dari pandangan mata yang nistadan mata yang tidak tunduk oleh sikap tawadhu’ dan takwa. Akan tetapi keindahan Islam tidak mencela keinginan seorang pemuda terhadap kelembutan dan kecantikan. Namun Islam jelas menolak pergaulan bebas dan perzinaan. Muhammad Qutub, pernah berkata :”Manakala seorang pemuda yang menginjak puber, merasakan panggilan nuraninya, maka menurut Islam ia tidak perlu berlindung kepada Allah dari perasaan ini. Karena Islam tegas-tegas menyatakan bahwa ini adalah persoalan alami yang tidak perlu diingkari. Oleh sebab itu perasaan tidak perlu ditekan dari keinginan ini hanya supaya dianggap suci oleh masyarakat maupun diri sendiri. Demikian pula ia tidak perlu merasa berdosa hanya karena perasaan ini. Dari sini segala kegoncangan psikologi dan urat syaraf yang timbul sebagai akibat merasa berdosa maupun yang menyebabkan tindak kriminal dalam keadaan ganjil tidak perlu terjadi. Akan tetapi kita tahu bahwa Islam tidak memperbolehkan seserang memenuhi panggilan (naluri) sesenaknya saja. Sebaliknya Islam mencanangkan batas-batas kegal yang mubah di dalamnya tapi haram di luarnya, ini memang benar. Akan tetapi peraturan ini adalah peraturan. Sedangkan tertekan adalah masalah lain. Sebab peraturan ini adalah pembatas ygmengatur aktivitas tetapi tidak mengekangnya dari sumbernya. Juga tidak menghalangi kapanpun juga antara seseorang dengan jiwa atau nafsunya” ( Sayyid Quthub ).

Masyarakat Islam telah sungguh membuktikan kebenaran teori dan ajaran Islam untuk memecahkan setiap masalah dan problematika termasuk masalah dan persoalan yang satu ini, yang sebenarnya menjadi persoalan paling dominan dari waktu ke waktu. Penikahan sebagai jalan bersih yang dianugerahkan Allah dengan segala kesucian dan kebersihannya adalah satu-satunya cara untuk memenuhi panggilan naluri. Jalan ini mudah dan sukarela tanpa memperberat dan menghambat kecenderungan individu. Dan ini pulalah bukti kebenaran Islam yang ajaran-ajarannya selalu memberi kemudahan dan kebahagiaan serta penyelesaian daripersoalan-persoalan yang dihadapinya. Salah satu contoh betapa mudahnya Islam membukakan jalan bagi manusia / umatnya adalah kisah indah di bawah ini yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Wa’dah:

Saya berkunjung ke tempat Sa’ad bin Al Mussayyab salah seorang tabi’in, karena saya sudah lama tidak berjumpa dengan beliau. Beliaupun bertanya ,”Kemana saja anda ini ?”. Saya jawab, “Saya memenuhijanji terhadap keluarga saya, sehingga menjadi sibuk sekali”. Ia berkata :” Mengapa tidak kasihkabar sehingga kami bisa menyaksikan ?”. Abdullah bin Wada’ah mengatakan , kemudian aku hendak berdiri beliau bertanya ,”Apakah anda membutuhkan seorang wanita sebagi calon istri ?” Saya jawab :”Semoga Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada anda . Siapakah yang akan menikahkan saya ? apadahal saya hanya punya dua, tiga dirham”. Beliau menjawab ,”Saya,”. Sayapun bertanya,”Benar anda akan melakukan ?”. Beliau menjawab :”Ya”, Kemudian beliau memuji Allah SWT, membaca sholawat untuk Nabi SAW dan menikahkan saya dengan (mahar) dua, atau beliau mengatakan tiga dirham. Abdullah bin Wada’ah berkata :”Akupun berdiri, kutak dapat membayangkan , betapa bahagianya diriku. Aku pulang ke rumah. Aku berfikir kepada siapa aku berhutang. Kemudian aku sholat maghrib dan pulang ke rumah untuk menyalakan lampu. Berhubung puasa makan malam kupergunakan untuk berbuka dengan sepotong roti dan zaitun. Tiba-tiba saja pintu rumahku diketuk seseorang. Serta merta aku bertanya, “Siapa di luar ?”. Terdengar jawaban,:”Said”, Abdullah bin Wada’ah mengatakan , “Lantas aku mengingat-ingat setiap orang yang bernama Sa’id, yang ada hanya Said Al Mussayab, ini dikarenakan 40 tahun beliau tidak terlihat kecuali anatara rumah beliau dengan masjid. Kemudian aku datang menyongsong si tamu yang ternyata memang Said Al Mussayyab. Aku mengira beliau akan membatalkan tawarannya. Akupun berkata ,”Wahai Abu Muhammad mengapa mesti repot-repot, kalau saja anda kirim surat, kan saya bisa datang ?. Beliau menjawab, “Tidak anda lebih berhak untuk di kunjungi ( daripada anda datang ke tempat saya )”. “Lantas bagai mana persoalannnya ?,”, tanyaku.. Lantas beliau menjawab :”Berhubung anda ini adalah pria yang lajang maka anda akan saya nikahkan. Sebab saya tidak senang jika anda menghabiskan malam-malam berlalu hanya seorang diri. Ini adalah istrimu. Tiba-tiba gadis itu berdiri di belakang beliau yang kemudian beliau persilahkan mendekat pintu. Kemudian ia saya bawa masuk, ternyata gadis itu adalah wanita yang amat cantik begitu hafal Al Qur’an dan amat mengetahui sunah Rasulullah serta hak suami.

Yang menarik sebagai catatan adalah bahwa putri Sa’id Al Mussayyab ini pernah dilamar oleh Abdul Malik bin Marwan untuk putranya Al Walid, manakala ia dijadikan putra mahkota, akan tetapi Sa’id enggan menikahkan putrinya dengan Al Walid.

Demikianlah kedatangan Islam benar-benar untuk mempermudah dan bukan sebaliknya mempersulid. Islam tidak memrintahkan agar manusia mengekang panggilan nalurinya dan tidak memberikan ilhambahwa naluri itu kotor dan mesti dihindari. Dengan pernikahan naluri manusia akan diatur dan terarah bersama syarat dan tuntunan yang dibenarkan. Penikahan merupakan sarana ideal, dimana naluri menemukan jawaban seimbang yang sebelumnya merupakan pencarian tanpa batas. Pernikaan tidak akan pernah merusak ketentraman dan bangunan moral dalam masyarakat. Pernikahan merupakan arena tumbuh dan berkembangnya emosi-emosi positif dan perasaan-perasaan saling kasih sayang, menyayangi dan menjaga serta rela berkorban untuk pendidikan dan penjagaan generasi baru. Allah telah menciptakan kaum laki-laki, dimana ia memiliki fitroh tertrik dan keinginan untuk dekat dengan wanita sebagai istrinya.

Dan Allah menjanjikan kebahagian bagi setiap hamba-Nya yang memilih pernikahan sebagai jalan yang bersih.

Sabda Rasulullah :

Ada tiga kelmpok orang dimana Allah benar-benar akan membantu mereka, salah satu diantaranya adalah orang yang Affaf yaitu orang yang menikah untuk membersihkkan dirinya” ( HR Tirmidzi , Nasa’I dan Hakim )

Dalam riwayat lain :

Barang siapa mencintai fitrahku maka ia harus melakukan sunahku diantaranya sunahku adalah menikah”. ( Al Baihaqi )

Demikian Allah dalam pernikahan ada janji dan keridloaan Allah. Ada pahala bagi mereka yang menempuhnya. Maka janganlah anda takut dan rekoso untuk menjalaninya karena jika telah diniatkan untuk dan karena Allah, Dia pasti membukakan jalan yang luas dan memberi kemudahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: