Sekumtum Bunga Untuk Zahro

“Subhanallah …. Indah sekali barisan semut ini”. Zahro, gadis kecil berumur 4 tahun itu tertegun dan terkesima menatap barisan semut yang berjalan demikian rapi dan teratur. Hey… mereka saling berhenti saat bertemu dengan yang lain. Oh mungkin berjabat tangan dan mengucap salam, sama kalau aku bertemu Mutiara sahabatku yang rumahnya di sebelah rumahku.

“Zahro … !”, sebuah suara yang tidak asing lagi memanggil Zahro. “Iya mama… Zahro disini”. Gadis kecil berperawakan mungil itu berlari lincah dan riang. Di dalam, mama sedang mencuci piring dan peralatan dapur. “Zahro bantu ya Ma..”. katanya sambil mengambil piring dan sendok yang telah bersih untuk ditaruh di rak piring. Mama tersenyum bahagia. “Mama…, tadi ada semut di sana, mereka berbaris dan bersalaman, seperti di buku cerita Zahro.

“O ya… jangan diganggu ya semutnya, biarkan saja”.

“Mama, semutnya makan apa ?”

“Semut biasanya makan remah-remah atau sisa-sisa makanan seperti roti, kue, kerupuk dan sebagainya.”

“Zahro boleh memberi makan semut-semut itu mama ?

“Tentu saja, mereka tentu akan senang”. Tiba-tiba …

“Tok-tok-tok assalamu ‘alaikum”

“Wa’alaikum salam. Iya sebentar”, mama bergegas menuju pintu depan. Zahro mengikuti di belakang mama.

“Hey Mutiara mari silakan masuk”

“Terima kasih, Mutiara pengin main di sini. Mutiara bawa roti, nanti dimakan sama Zahro”

“Pintar sekali Mutiara, ayo sana main saja sama Zahro, baik-baik ya “

Zahro dan Mutiara berjalan beriringan menuju taman kecil yang terletak di belakang rumah Zahro. Wow rupanya Zahro hendak mengajak Mutiara melihat semut-semut yang berbaris dan bersalaman. Mereka berdua duduk tak jauh dari barisan semut itu sambil makan roti. Sesekali tangan kecil Zahro dan Mutiara menaburkan serpih-serpih roti untuk para semut itu.

“Zahro … apakah semut-semut ini tidak nakal ?”

“Tentu tidak Mutiara, mereka makhluk ciptaan Allah yang baik. Kata ustadzah Faizah, semut-semut seperti juga binatang lain selalu bertasbih memuji Allah”

“Iya ya, mereka binatang yang hebat. Kata bundaku semut juga selalu bergotong royong serta bekerja sama.”

Tak lama kemudian mama Zahro datang membawa beberapa lembar kertas, pensil, pensil warna dan krayon. Sudah menjadi kebiasaan mama apabila Zahro bermain dengan mutiara atau siapapun teman Zahro yang lain, mama selalu menawarkan pada Zahro dan teman-temannya untuk menggambar. Jadilah sore itu Zahro dan Mutiara asyik menggambar barisan semut.

Sementara itu para semut sangat bersuka cita, mereka mengucap hamdalah dan bersyukur memuji keagungan Allah. “Alhamdulillah ya Allah sore yang indah ini Engkau memberi kami rezki yang cukup. Sehingga kami bisa makan bersama keluarga. Bahkan sebagian kami simpan untuk persediaan besok”.

Para semut itu menuju rumah mereka, beberapa diantara mereka bercakap-cakap.”Kawan, tadi kamu lihat dua anak tadi, mereka berdua sungguh baik hati”

“Betul, mereka telah memberi kita makan, sungguh luar biasa”

“Dan yang lebih penting, mereka tidak mengganggu kita”

“Mereka anak-anak yang pintar, mereka tahu cara menyayangi binatang”.

“Padahal beberapa waktu yang lalu, keluarga kita hampir mati semua karena ulah anak kecil”.

“Benar, aku juga tak pernah lupa kejadian itu, pagi-pagi ketika bersiap mencari makan, seorang anak kecil berusaha membakar rombongan kita dengan kertas dan korek api, tapi Alhamdulillah Allah masih melindungi kita, meski beberapa teman dan saudara kita ada yang sakit dan terluka”.

“Siapa nama anak kecil tadi ya ?”

“Zahro, yang satunya adalah temannya, namanya Mutiara”

“Kalau saja mereka kecil seperti kita, aku akan mengajaknya ke istana kita para semut. Dia tentu akan senang bertemu Ratu serta prajurit semut”.

“Iya, tapi itu mustahil kan?”

Sejak hari itu, Zahro selalu suka memberi makan pada rombongan semut yang melewati kebunnya. Para semut itupun semakin menyayangi Zahro, meskipun Zahro tak pernah tahu. Zahro sering berfikir seandainya ia bisa bicara dengan kawan-kawan kecilnya itu, tentu banyak hal yang begitu ingin ia tanyakan. Tentang dunia semut, rumah mereka, persaudaraan para semut, juga cara mereka bekerja dan mencari makan. Begitupun dengan semut-semut itu. Seandainya ia bisa berbicara dengan Zahro, ingin sekali mereka mengucapkan terima kasih untuk Zahro yang telah berbaik hati pada para semut. Dan mereka ingin bermain-main dan berbagi pengalaman dengan Zahro.

* * *

Sore itu cuaca demikian gerah dan panas. Dari arah tenggara, langit berubah gelap. Mentari yang semula hangat menerpa seluruh alam raya, kini menghilang dibalik gumpalan awan. Tak beberapa lama angin mendesau menerbangkan debu-debu. Hujanpun turun begitu deras, mengguyur seluruh rumah-rumah yang berderet di perumahan Griya Asri.

Mama membuat teh hangat untuk Zahro dan papa yang sedang asyik di ruang baca. Beberapa kali kilat disertai halilintar menggelegar membuat Zahro takut dan kengerian. Papa segera mengangkat dan meletakkan Zahro dipangkuan. Setelah hampir dua jam, baru kemudian hujan reda.

Zahro berdiri dan mendekati jendela. Ia melongok dan melihat kearah kebun. “Bagaimana dengan semut-semut itu ya ?” batin Zahro. “Lihat apa Zahro ?”, tanya papa. “Ehm apa teman-teman semutku kehujanan ya Pa ?” papa tersenyum geli mendengar pertanyaan Zahro. Mendengar itu mama segera menyahut, “Zahro, semut itu binatang yang cerdas. Allah memberi mereka banyak kelebihan. Mereka bisa membuat rumah-rumah mereka sendiri. Sehingga mereka bisa berteduh dari hujan dan panas”.

“Jadi mereka di dalam rumah mereka ya Ma ?”. “Iya sayang”, jawab mama.

Zahro kemudian berjalan mendekati papa dan mamanya, tapi baru dua langkah saja tiba-tiba ia terhuyung-huyung, “Aduh mama”, katanya. Mama dan papa heran dan panik. Kemudian segera merangkul dan menggendong Zahro. Ia tidak sehat, tubuhnya demam.

* * *

Sudah dua hari Zahro terbaring di tempat tidur. Mama sudah membawa Zahro ke dokter. Meski demamnya sudah turun, Zahro masih tampak pucat dan lemas. Ia hanya mau makan sedikit. “Mulutku pahit Ma”, katanya, ketika mama memberinya minum susu. “Tapi Zahro harus tetap makan dan minum, supaya cepat sembuh”. Kata mama membujuk Zahro. Mutiara kelihatan sedih selama Zahro sakit, ia selalu menjenguk Zahro, ia dan bundanya juga datang membawa jeruk, buah kesukaan Zahro.

“Terimakasih Mutiara, kau baik sekali”, kata Zahro.

“Sama-sama”, jawab Mutiara sambil menganggukkan kepala .” “Zahro cepat sembuh ya ?”, Katanya lagi. “Insya Allah “, jawab Zahro.

Mama selalu sabar merawat serta menjaga Zahro. Mama tak pernah lupa meminumkan obat Zahro sesuai aturan. Selama sakit, Zahro banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Apalagi obat yang diminumnya membuat Zahro lelap dalam mimpi dan tidur yang panjang.

Saat Zahro tertidur nyenyak, mama mendekati Zahro, membelai rambutnya serta mencium keningnya. Mama selalu bersyukur mempunyai puteri yang cantik dan cerdas seperti Zahro. Sementara itu tanpa disadari oleh Zahro dan mama, di sudut ruangan dua ekor semut tampak sedih dan muram. Hey teman lihat Zahro teman kita sakit, ia terus tertidur dan tidak bergerak-gerak, hu… hu… Zahro bangun .. !” Hei jangan begitu teman, kenapa mesti menangis ? Hi … .

“Aduh kamu ini gimana kok ikutan menangis”

“Iya soalnya aku takut terjadi apa-apa dengan Zahro”.

“Tidak lihat saja Zahro tampak tenang itu artinya Zahro baik-baik saja dan akan sembuh”.

“Hai tidakkah kau ingin berbuat sesuatu untuk Zahro. Tidakkah kau ingin berbuat sesuatu yang bisa membahagiakan Zahro. Tidakkah kau ingin membuat dia senang bukankah Zahro telah banyak berbuat baik kepada kita”.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk Zahro ?”

“Ehm … Bagaimana kalau besok pagi-pagi kita petik setangkai bunga dan kita persembahkan untuk Zahro”.

“Masya Allah cemerlang sekali idemu, kalau begitu mari kita segera pulang dan menceritakan pada teman-teman tentang rencana kita”.

Pagi yang dingin dan berkabut. Angin berhembus berpadu dengan basah udara. Zahro masih lelap dalam tidurnya. Wajahnya sudah tidak pucat lagi seperti kemarin. Mama mendekati Zahro dan membetulkan selimutnya. Setelah itu mama beranjak untuk sholat tahajud untuk menghaturkan segala rasa syukur atas semua anugerah Allah termasuk kesembuhan Zahro. Tanpa disadari oleh mama dan Zahro serombongan semut sahabat Zahro berduyun-duyun membawa setangkai bunga. Perlahan dan pasti barisan itu berjalan melintasi kebun menuju pintu dan memasuki kamar Zahro. Mereka mengusung setangkai bunga dan meletakkannya di meja Zahro. Beberapa saat kemudian Zahro bangun. Ia keheranan mengapa banyak semut dikamarnya. Dan …Subhanallah ada setangkai bunga di meja. Zahro takjub melihat apa yang ada dihadapannya. Mama datang membawa secangkir teh hangat. Mama keheranan melihat Zahro tak berkedip melihat semut-semut yang berbaris dari meja ke lantai.

“Ada apa Zahro ?”

“Mama lihat semut-semut itu !”

“Oh indah sekali Zahro mereka membawa setangkai bunga”

“Mungkin saja untukmu sayang”

“Benarkah mama ? apakah mereka semut sahabatku ?”

“Insya Allah sayang ….”

Mama memeluk Zahro, sambil memperhatikan rombongan semut yang pelan-pelan berlalu meninggalkan kamar Zahro.

Sementara para semut itu segera pulang. Mereka terharu dan bahagia karena Zahro sudah sembuh. Mereka bersyukur mendapat teman seperti Zahro.

Zahro mengambil bunga pemberian para semut. Dicium dan dihirupnya wangi bunga itu dengan hati bahagia. Bahagia yang dalam, sedalam rasa syukur dihatinya.

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: