Kisah Pak Cangkir

Pak Cangkir sudah puluhan tahun mendiami lemari perabot mewah milikseorang tuan yang kaya raya. Ia masih lengkap dengan lepek dan tutupnya. Beberapa tahun yang lalu ia berdua dengan istrinya. Tetapi salah seorang pembantu memecahkannya. Nyonya rumah sangat marah dan memecat pembantu itu. Hati Pak Cangkir sangat sedih bukan saja ia kehilangan istrinya tapi juga karena dipecatnya pembantu tersebut. Kian hari Pak Cangkir merasa kesepian. Ia semakin tua dan lelah. Sebenarnya ia ingin hidupnya bermanfaat, seperti teman-temanya yang lain sesame penghuni lemari itu, gelas, piring, sendok, mangkok dan lain-lain yang jumlahnya lebih banyak dari dirinya. Mereka sering dikeluarkan dimandikan dan dibersihkan. Setiap kali ada acara di rumah tersebutseperti arisan, pertemuan keluarga dan sebagainya, mereka tampak gembira dan bahagia. Namun pak Cangkir tidak iri hati, ia hanya berdo’a terus kepada Allah agar hidupnya yang tinggal beberapa saat lagi bisa bermanfaat

Seperti hari ini pak Cangkir yang tertidur tiba-tiba mendengar suara gaduh teman-temannya.

“Hey … akan ada pesta makan-makan. Ia …. Lihat kita dikeluarkan . …. Hore kita mandi … pasti segaaar!!”. “Kita akan dipakai untuk menghidangkan ikan panggang yang lezat. Sup hangat yang sedap. Juga es buah yang segar”.

Merekapun tertawa gembira.

“Eh kasihan pak Cangkir, dia tidak pernah ikut serta.”kata sendok.

“Maaf Pak Cangkir kami pergi dulu … . Pak Cangkir sabar ya !!” Kata garpu dengan nada sedih.

“Tidak apa-apa, pergilah, hati-hati ya” kata Pak Cangkir dengan sabar.

Meskipun hati pak Cangkir sangat sedih, namun dia yakin Allah yang Maha Penyayang akan menolong dirinya. Saat itu lewatlah seekor cicak iapun menyapa dan menghibur pak Cangkir.

“Pak Cangkir jangan sedih, kami semua menyayangimu. Meski kau hanya berdiam diri tapi kau sering memberi nasehat kepada kami”, kata Cicak.

“Terima kasih Cicak, kau baik sekali!”.

Percakapan mereka terhenti ketika nyonya rumah mendekat bersama seorang pemuda yang gagah dan tampan. Rupanya cucu dan nenek itu sedang memperbincangkan Pak Cangkir. Nyonya rumah merasa kesal, karena ia teringat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika pembantunya memecahkan cangkir yang satunya, tetapi cucunya mengingatkan agar sang nenek tidak mengungkit kejadian yang tidak baik bahkan cucunya yang bernama Amar itu menyarankan agar cangkir indah itu dipersembahkan untuk orang lain sebagai hadiah. Entah bagaimana keputusan akhirnya, tapi yang pasti keesokan harinya Pak Cangkir dimasukkan ke dalam dusnya yang telah lusuh.

Hati pak Cangkir gembira bercampur cemas. Sebelum pergi ia mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya penghuni lemari perabot itu. Mereka semua sedih karena harus berpisah dengan Pak Cangkir. Namun mereka berharap Pak Cangkir akan menemui kehidupan yang lebih baik.

Amar membawa pak Cangkir pergi, saat melintasi teras ia menyaksikan kepinga-kepingan tubuh istrinya yang ditata dalampot bunga mawar merah. Pak Cangkir melampaikan tangannya dengan sedih, ini adalah perpisahannya yang kedua dengan sang istri. Amar memasukkan pak Cangkir ke jok belakang mobilnya. Sepanjang jalan Pak Cangkir berdo’a agar ia mendapatkan kebaikan. Mobil Amar memasuki sebuah pedesaan yang sejuk dan nyaman. Kemudian masuk kehalaman yang cukup luas ada berbagai macam tanaman disana. Rumah bambu yang sederhana tampak bersih dan rapi. Seorang kakek dan nenek keluar dari dalam rumah itu dan menyambut kedatangan Amar

“Assalaamu ‘alaikum ”. “Wa’alaikum salam, Nak Amar apa kabar. Lama tidak kemari”, kata si Kakek .

“Maafkan Amar Kek. Akhir-akhir ini Amar sibuk denganpekerjaan Amar, jadi baru bisa mengunjungi kakek dan nenek sekarang”. Jawab amar sambil duduk di kursi kayu.

Kakek dan nenek yang tingal di desa itu ternyata pernah menyelamatkan Amar, ketika ia pernah terserempet mobil waktu mengendarai sepeda motor di jalan raya dekat desa itu. Amar pemuda yang baik hati dan tahu terima kasih, ia menganggap kakek dan nenek itu seperti keluarga sendiri. Amar membawa oleh-oleh barang makanan dan juga Pak Cangkir untuk kakek dan nenek. Mereka sangat berterima kasih kepada Amar.

Sejak hari itu Pak Cangkir selalu dipakai oleh nenek untuk menyeduh teh buat kakek. Setiap hari nenek mencuci dan menaruh Pak Cangkir bersama lepek dan tutupnya di rak kayu yang sederhana. Disitu Pak Cangkir sangat dihormati oleh piring, sendok, gelas dan perabot lain milik nenek. Namun Pak Cangkir meski ia paling bagus dan mahal ia tidak tinggi hati, ia bergaul dan berteman dengan siapa saja. Dan iapun sangat bersyukur kepada Alalh, karena harapannya untuk hidup lebih bermanfaat telah dikabulkan. Iapun semakin giat beribadah. Setiap pagi pak Cangkir menghirup udara pedesaan yang sejuk. Ia benar-benar bahagia.

******

Sri Anisa Prahasti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: