Cemburu

Pagi itu seperti biasanya aku menyiapkan sarapan dan perlengkapan suamiku. Tapi ketika kucari dasi yang senada dengan kemeja Mas Setyo… kok nggak ada. Eh … saat menoleh kepada putriku, Hasna, aduh ternayta ia sedang memakaikan dasi itu pada boneka beruangnya. “Dik Hasna, sini…! Mana dasi papa? Papa keburu telat, lho”, kataku pada Hasna. Hasna manyun sambil menggeleng kepala. “Nggak…nggak”, katanya dengan suara yang belum jelas. Aku menatap suamiku. “Gimana Mas, dasinya ?” “Coba cari yang lain”, jawab Mas Setyo sambil berlalu di hadapanku.

Setelah buka-buka semua laci dan almari, akhirnya kutemukan juga yang sesuai, meski dasi itu, sudah berumur tujuh tahun, ia masih kelihatan cakep. Dasi itu begitu istimewa karena ia dipakai mas Setyo saat menikaiku. Saat kupasangkan dilehernya ia malah bilang … . “Gimana, Dik .Panteskah aku jadi pengantin lagi? Aku tersenyum saja, biasa … ia suka bergurau dan menggodaku. Mas Setyo pergi setelah bersalaman dan mengucap salam. Kulepas kepergian suamiku dengan seiring do’a semoga kami sekeluarga selalu dalam lindungan-Nya.

Anak pertamaku sekolah di SD kelas I, aku sendiri mengajar di salah satu instasi sekolah. Aku bersyukur mempunyai suami seperti mas Setyo. Selama ini dia selalu baik dan senantiasa berusaha menjadi pemimpin yang bertanggungjawab. Selain pintar, suamiku juga sayang dan selalu memahami keadaanku. Bahkan selama tujuh tahun bersamanya, belum pernah antara kami terjadi perselisihan yang berarti.

“Ma…ma…adik…,” suara Hasna membuyarkan anganku. Ia berjalan menyeret boneka beruangnya yang berdasi, mendekatiku. Aku tersenyum. “Oh, adik ya, sini adik sama mama…”kataku sambil mencium boneka Hasna. Gadis kecil itu tertawa kegirangan… “Ma.. ma.. ma… ma..” Hasna menghampiri aku lagi. Diseretnya tas yang biasa kubawa mengajar. Sepertinya tas yang biasa kubawa mengajar. Sepertinya ia hafal betul kapan mamanya harus pergi. Aku dan Habib berangkat, Hasna dan mbak Titi, khadimah kami melepas kepergian kami. Kucium gadis kecilku yang semakin cantik dan menggemaskan itu. “Hasna baik-baik di rumah ya? Ngak boleh ngompol lagi”. Ia mengangguk-angguk seolah benar-benar mengerti maksudku.

Di sekolah ketika sedang mengajar, bu Laksmi, staf TU di sekolah, memanggilku, katanya ada yang mencari dan ingin ketemu. Setelah menenangkan anak-anak tercinta dikelasku, akupun beranjak meninggalkan kelas. Dadaku berdebar, perasaanku tidak nyaman. Tak biasanya aku dicari seseorang, apalagi ia laki-laki. Ya Allah tenangkanlah hatiku.

Gang menuju ruang tamu terasa sangat panjang, kucoba berdzikir untuk menghalau gelisahku. Saat pintu ruangan tersebut telah tepat di depan wajahku kuucap salam. Assalamu’alaikum”. Sebuah suara yang sepertinya telah kukenal menjawab dari dalam. “Wa’alaikum salam..” Aku terkejut bukan main saat memandang sosok dihadapanku. “Mas Hari…”, ucapku. Kucoba menenangkan diriku. “Ada apa, Mas..? Kalau ada perlu sesuatu, kenapa tidak titip pesan pada mas Setyo?” “Ma’afkan aku Han … aku butuh bantuanmu”. Ada nada ragu dan sedih dalam kalimatnya. “Apa yang bisa kubantu, Mas..? “Kondisi Rani sedang tidak baik. Ia sering sakit bahkan pernah opname. Kurang bisa dipastikan apa sakitnya, bahkan dokter bilang sebenarnya ia tidak sakit apapun”. “Oh… begitu …?”. “Datanglah ke rumah kau pasti bisa memberikan advis atau apapun untuknya”. “Insya Allah, Mas”, jawabku singkat. “Baiklah Han, aku pamit dulu. Maaf telah mengganggumu.”

Setelah jam sekolah usai, aku betul-betul bingung apa yang mesti aku lakukan. Telpon mas Setyo dulu atau langsung ke rumah dik Rani. Perasaanku jadi tak enak. Dik Rani adalah sahabatku dan kelihatannya dia benar-benar sedang dalam masalah, pasti ia membutuhkan teman yang bisa diajak bicara. Setelah berfikir aku segera telepon mas Setyo minta izin untuk menengok dik Rani. Entahlah aku tak berani bilang kalau mas Hari datang ke sekolahku, aku takut mas Setyo akan menduga yang tidak-tidak. Aku juga telepon mbak Titi, memberitahukannya kalau aku terlambat pulang, sekalian kuminta untuk jemput Habib.

Setelah naik angkot hampir setengah jam, aku tiba di rumah dik Rani.Hampir setahun tak melihatnya, dik Rani tampak lebih kurus dan wajahnya pucat. Kami saling berpelukan. “Aduh bu guru semakin cantik saja…” ucapnya sambil mencubit pipiku. “Ah dik Rani ada-ada saja,” jawabku sambil tersipu. Kami lalu duduk bersebelahan, dik Rani banyak cerita tetang permasalahannya yang komplek, tentang penyakitnya yang sampai saat ini masih jadi tanda tanya. Kejenuhan dalam menghadapi hari-harinya, tinggal di rumah seorang diri. Mas Hari yang bekerja tiap hari sampai sore tidak ada waktu untuk menemaninya. Kedua orang tuapun sudah tiada. Waktu demi waktu ia rasakan dengan berat. Aku mendengar dan memperhatiakn semua kisahnya dengan seksama. Sekali-kali kutimpali dengan nasehat, dorongan dan apapun yang bisa kuberikan dengan segala ketulusanku.

Aku melihat kelegaan di wajah sahabat lamaku itu. Sebelumnya kami berteman cukup lama, sejak kami sama-sama remaja. Sementara mas Hari demikian akrabnya dengan mas Setyo, mereka teman sekantor. Sehingga kami berteman cukup dekat. Kami sering kali curhat dan memberi nasihat. Tapi sejak aku menikah, kedekatan kami mulai memudar. Aku dan dik Rani jarang ketemu bahkan meski sekedar telpon. Tak kusangka karena sakitnya, kakak dik Rani yaitu mas Hari mencariku. Aku tak tahu persis kedatangan mas Hari ke sekolah dan mengabarkan semuanya itu atas permintaan dik Rani sendiri atau kehendak mas Hari.

Sejak pertemuan itu, aku dan dik Rani beberapa kali jalan-jalan atau aku datang ke rumahnya. Semua kulakukan sudah seizin mas Setyo, suamiku. Kian hari keadaan dik Rani semakain membaik. Kulihat wajahnya kembali bercahaya, semangat hidup tampak kembali berpendar di jiwanya. Bahkan ia kembali mengelola toko bunga yang sempat tutup beberapa bulan. Aku bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya yang tak terhingga. Semoga kebahagiaan selalu menaunginya.

Malam yang indah, cahaya bulan keperakan menerobos tirai jendela kamarku. Mas Setyo kelihatan serius dengan buku di tangannya. Ia duduk dengan selonjor di tepi pembaringan. Sebenarnya hal seperti ini bukan kebiasaanya. Ia kelihatan tak menghiraukan kehadiranku. Aku merasa tak nyaman dengan sikapnya. Maka kudekati ia… . “Mas….” Ucapku pelan. “Hm… ada apa?”, jawabnya singkat tanpa menatap ke arahku. Hatiku jadi galau, ada kemarahan pada jawaban singkatnya itu. Tujuh tahun menjadi istrinya belum pernah kurasakan sikapnya seperti ini. Kupegang kedua tangannya, … dan … ia demikian tak peduli terhadapku. Sebuah luka tiba-tiba menganga di hatiku. Kucoba menahan diri. Dalam hati kuperbanyak dzikir memohon pertolongan-Nya. Hatiku merasa terbelenggu. Apa yang kurasakan malam ini merupakan sikap tersadisnya. Hatiku pedih… batinku amat tersiksa. Hening… beberapa saat kemudian mas Setyo berkata … . “Kamu mencintai Hari?” Pertanyaan itu bagai sebuah tamparan panas yang menghantam tanpa ampun ke wajahku. Meski demikian sakit, aku terus mencoba bersikap tenang… . “Apa yang Mas katakan?” kucoba untuk bertanya. “Jawab dulu pertanyaanku!”, kalimat Mas Setyo penuh emosi meski ia tidak membentakku. “Tidak !”, jawabku singkat. “Han … kamu ingat Hari pernah mencintaimu, dan hampir saja ia mengkhitbahmu, bisakah kamu berhati-hati kepadanya?”, kata mas Setyo sambil menatap tajam ke arahku. Aku tak sanggup membalas tajam pandangan mas Setyo kepadaku. “Mbak Rani sahabatku Mas, aku hanya coba membantunya. Ia membutuhkan seorang teman”, jawabku mencoba memberi argumen yang masuk akal kepadanya. “Apakah tidak ada orang lain yang bisa membantunya?” kata mas Setyo lagi.

Kata-kata mas Setyo meluluh lantakkan perasaanku. Aku terdiam di tempat, tapi air mataku tanpa aku mampu menahannya. Hening… lenggang…. bisu dan menyakitkan, itulah suasana kamar kami yang telah bertahun-tahun indah penuh cinta dan kebahagiaan. Berjam-jam aku tenggelam dalam tangis kepedihan. Aku merasa hancur dan sangat terluka. Sebagai seorang istri, kesetiaan, cinta, pengorbanan dan apapun yang telah kupersembahkan untuk keluarga ini seolah sia-sia belaka. Namun sebagai hamba Allah yang lemah, aku mencoba mencari kesalahan dan kekuranganku, kelemahan dan keterbatasanku. Aku ingin sekali memohon maaf pada suamiku, tapi aku ragu seberapa besar kesalahanku. Aku menunggu … dan sangat berharap mas Setyo akan mengucapkan sebuah kalimat yang mungkin bisa menjernihkan hati kami berdua. Namun harapanku sia-sia, ia tetap diam seribu bahasa. Mungkinkah kebenciannya terhadapku telah menggunung salju … entahlah aku tak tahu pasti. Akhirnya aku bangkit dan keluar kamar itu, kuambil air wudhu dan kukerjakan shalat.

Hari ini aku tak berangkat mengajar. Meskipun sebenarnya berat hatiku, tapi aku tidak mau anak didikku melihatku seperti ini. Kedua mataku bengkak dan hatiku masih dipenuhi kelukaan. Mas Setyo tetap berangkat ke kantornya, tapi belum jam 10.00 ia sudah pulang. Ia masuk ke kamar dan duduk didepanku. Aku tak berani menatapnya. “Maafkan aku Han..” ucapannya penuh penyesalan. Entah kekuatan apa yang membuat kepalaku mengangguk. Ia merengkuh tubuhku dan membenamkan kepalaku di dadanya. “Aku cinta kamu Han.. aku sungguh sayang kamu,” katanya dengan lirih penuh kasih sayang. Kupejamkan mataku … ku lepaskan nafasku yang berat … Alhamdulillah segala puji bagi-Nya kata itu lirih kuucapkan namun kurasakan sampai direlung hati yang paling dalam. Kuingat dan kucoba mencerna semua kejadian ini. Bagiku ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Sebagai isteri sudah mestinya aku menjaga diri dan kehormatanku. Memahami perasaan suami dan selalu hati-hati dalam bersikap. Bukankah ketika sahabat Sa’ad mengadukan perasaan cemburu pada sang isteri, ketika isterinya berdua dengan laki-laki yang bukan mahramnya, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku lebih cemburu dari Sa’ad.” Maka akupun menyadari semuanya dan kuucapkan pada suamiku tersayang. “Maafkan aku mas … aku cinta “panjenengan ….”.

 

Sri Anisa Prahasti

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: