Akulah Albana

Albana termenung memandangi hamparan padi yang menghijau di hadapannya. Di atas gubug kecil di tengah sawah senja itu. Ia merasakan kesejukan dan ketenangan dari sebuah kesendirian. Yach… , Al Bana, ia merasa sendiri tanpa ayah, ibu dan dua orang kakaknya, abdullah dan Abdurrahman. Albana sengaja ingin berlibur ke tempat paman dan bibinya. Sementara ayah, ibu dan dua kakaknya jauh-jauh hari sudah merencanakan liburan di tempat eyang. Dan tak seorangpun yang tahu kalau Albana ingin berlibur sendiri di rumah paman.

Teringat kembali kehidupan sehari-hari Albana di rumah, sebuah keluarga kecil yang bahagia. Ayah dan ibu yang baik dan senantiasa memperhatikan anak-anaknya. Abdullah, kakak sulungnya, kini kelas VIII SMP, ganteng dan pintar. Selalu masuk tiga besar di kelasnya. Dan beberapa kali ia menjuarai perlombaan kesenian dan olah raga mewakili sekolahnya. Abdurrahman kakak kedua yang kelas VI SD bersifat pendiam, penurut dan paling jarang membuat susah orang tua. Iapun selalu berhasil mendapat ringking satu tiap semester. Begitulah …. . Dan Albana ia merasa tak berarti apa-apa dibandingkan kedua kakaknya. Karena selain cerewet, Albana juga suka sekali memancing di sungai, pergi dengan teman-teman, dan tidak pernah bisa masuk sepuluh besar di kelasnya. Ach…, hal itu sangat melukai hati Albana. Walaupun selama ini Albana sudah berusaha untuk mencontoh sikap atau cara belajar kedua kakaknya, tetapi tidak pernah berhasil, bahkan sebaliknya, membuat Albana semakin tak mampu mengambil sikap yang paling tepat. Memang ayah-ibunya tak pernah mempersoalkan hal itu. Namun bagi Albana keadaan itu tetap mampu melukai perasaannya.

Seringkali terpikir oleh Albana mengapa ia jauh berbeda dengan kedua kakaknya, apakah ia anak terakhir, atau karena namanya Albana, yang sering diganti dengan Al-Bona oleh kawan-kawan, kalau Bona si gajah kecil berbelalai panjang di majalah Bobo itu cerdik dan pandai, sedang Albana … tidak sama seklai. Albana tidak bisa disamakan dengan Bona. Albana hanya bisa membuat senyuman kawan-kawannya saat bercanda atau membuat hiasan-hiasan dari kertas warna-warni bila sekolah hendak mengadakan suatu perayaan. Hanya itu yang bisa dilakukan.

“Albana…!” Albana terkejut, seseorang memanggil, dan ternyata ia adalah pamannya. Buru-buru Albana menyeka beberapa butir air mata di pipi. “Oh, paman !” jawab Albana. “Albana, kau tidak pulang?, hari sudah senja. Paman khawatir kalau kamu lupa jalan ke rumah”, kata paman. “Ah paman, tentu tidak”. “Kalau begitu, mari kita petik beberapa tangkai jagung, nanti malam kita bakar di tungku”, lanjut paman. “Baik paman”, jawab Albana sambil beranjak dari duduknya.

Siswa kelas IV SD itu mengikuti berjalan di belakang pamannya. Sampai di rumah pamannya hari sudah menjelang maghrib. Setelah membersihkan badan, shalat dan makan malam, Albana dan pamannya pergi ke belakang untuk membakar jagung. Sementara bibinya sibuk menidurkan si kecil. Sambil membakar jagung merekapun berbincang-bincang. “Albana …”, pamannya membuka percakapan. “Ya, paman”, sahut Albana. “Paman heran, mengapa kamu berlibur sendiri di sini”, lanjutnya. “Ah, paman, saya memang ingin sendiri di sini, tidak dengan ayah, ibu, juga kakak Abdullah maupun kakak Abdurrahman”, jawab Albana. “Tapi kamu tidak sedang marah atau bertengkar dengan kedua kakakmu bukan?” tanya paman. “Tentu tidak paman,” jawab Albana singkat.

Percakapan mereka terhenti, sesekali tangan paman membolak-balikkan jagung dan Albana yang mengipasinya. “Albana…, kalian bertiga harus rukun sejak kecil. Karena perselisihan atau pertengkaran tidak akan membawa kebaikan sedikitpun dalam kehidupan ini”, Albana diam memperhatikan nasehat pamannya. “Dulu paman hidup 6 bersaudara, ayahmu adalah anak yang paling tua. Ia begitu cerdas, sehingga pandai memimpin kelima adiknya. Kami semua belajar agar hidup mandiri dan sederhana agar bisa sekolah. Makan dan pakaian kami seadanya. Karena kami semua ingin sekolah.” Sejenak paman menghentikan ceritanya. Dan Albana setia menunggu. “Namun begitu, diantara kami pamanlah yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Beberapa kali paman tinggal kelas. Mulanya paman tidak ingin putus asa, dan semua kakak-kakak pamanpun selalu memberi semangat agar paman lebih giat belajar dan berlatih. Namun paman semakin merasa tidak mampu. Dan akhirnya paman memutuskan untuk keluar sekolah”.

Paman terdiam, pandangannya menerawang masa lalunya. Albana terharu. “Paman sedih…?” Albana menyela. “Ah, tidak. Tidak, paman hanya sedikit hanyut. Tetapi setelah paman tidak sekolah lagi, kakak dan nenekmu memberi paman sepetak sawah. Mula-mula paman begitu enggan, entak karena apa. Barangkali hati paman masih dipenuhi oleh kabut kedukaan. Dan beberapa bulan kemudian paman pergi ke kota. Paman mencoba jualan rokok ditepi jalan, tapi rupanya paman kurang berbakat. Karena beberapa waktu kemudian paman gulung tikar. Akhirnya paman gonta-ganti pekerjaan. Yah… paman pernah menjadi kernek, sopir becak dan terakhir bekerja disebuah toko milik orang Cina. Tapi semua pekerjaan itu tak satupun yang jadi. Dan paman hampir putus asa hingga akhirnya paman pulang ke desa. Perlahan-lahan, paman mulai mengakrabi dengan sepetak sawah milik paman. Walaupun mengerjakannya memerlukan kerja keras dan kesungguhan, namun akhirnya paman bisa menemukan satu kebahagiaan darinya. Dan Alhamdulillah, beberapa kali akhirnya paman mendapat gelar petani teladan di wilayah ini”. Demikian paman Albana menutup ceritanya. “Paman hebat !”, kata Albana dengan pandangan berbinar. “Ah… sudahlah, sekarang kita bawa jagung-jagung bakar ini ke depan !”, kata paman. “Baik paman”, jawab Albana singkat.

Hari demi hari dilewati Albana di rumah pamannya. Ia merasa liburan kali ini begitu menyenangkan. Banyak cerita dan nasehat pamannya yang sangat berarti bagi Albana. Ia merasa bahwa kerisauan hatinya selama ini tak beralasan. Seharusnya ia mengerti keadaan dan kenyataan yang ada pada dirinya. Dan tidak semestinya ia hidup dalam bayangan kepandaian kakaknya. Albana harus menjadi dirinya sendiri. Yahh, dia adalah Albana, bukan Abdullah ataupun Abdurrahman.

Dan hari itu Albana akan pulang. Ia diantar oleh pamannya naik kereta api pukul 06.00. Dia akan melalui kehidupan barunya. Albana ingin menjadi anak yang baik, berbakti pada kedua orang tuanya dengan segala keadaan yang ada pada dirinya. Kini sekolah masuk kembali seperti biasa. Albana melewati hari demi harinya dengan mantap. Belajar, bermain, bersepeda dan memancing. Semua ia lewati dengan perasaan bahagia. Namun jam belajarnya ia perbanyak. Karena walaupun Albana tidak pandai, ia juga ingin pintar.

Sampai pada suatu hari, Albana diminta oleh sekolah untuk mewakili sebuah perlombaan melukis. Albana merasa keheranan, mengapa dirinya yang terpilih, namun Albana tetap ingin mencobanya. Ketika tiba hari perlombaan, dalam benak Albana hanya ada hamparan sawah pamannya yang menghijau. Maka Albana pun mulai mengerjakan lukisan itu. Setelah selesai, Albana merasa bersyukur karena semuanya berjalan dengan lancar. Untuk selanjutnya Albana menyerahkan segala sesuatunya pada Allah SWT.

Hari-hari menunggu pengumuman bagi para juara lomba melukis, justru tampak menegangkan bagi keluarga Albana, ayah, ibu dan kedua kakaknya. Tapi tidak bagi Albana sendiri. Ia tampak tenang dan bahkan dia mengikuti sekolah ngaji setiap sore di masjid “Abu Bakar”. Bahkan ia sangat senang karena ia telah berhasil membaca Al-Qur’an dengan lancar. Ayah, ibu dan kedua kakaknya merasa keheranan. Dan ketika tiba saatnya malam pengumuman dan pembagian hadiah penghargaan tiba, setiap jantung yang berdegup kencang merasa lega ternyata lukisan terbagus adalah milik Albana. Albana yang semula tenang, kini semburat merah pipinya dan ia tak mampu menahan air matanya yang bergulir jatuh. Semua orang memberi ucapan selamat kepada Albana. Teman-teman sekelasnya mengangkat tinggi-tinggi. Namun Albana tidaklah bermimpi. Albana sangat bahagia dan bersyukur kepada-Nya.

Malam itu ketika hendak tidur Albana menulis di atas kertas yang berwarna biru : Albana, kini engkau sudah besar

Kamu harus bisa menjadi dirimu sendiri

Akulah Albana, bukan siapapun.

Sri Anisa Prahasti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: