Hayyatan Thoyyibah

“Hayyatan thoyibah” adalah pengharapan …, cita-cita serta keinginan manusia yang berakal. Ia mengawali langkah kakinya dengan kesadaran mendalam. Bersikap baik dan menghadapi hidup dengan kebijakan. Kesadaran seorang hamba yang menjadikan tinggi jiwanya karena ketaqwaan, keimanan dan kepasrahannya pada sang khaliq. Seorang hamba yang kecil yang berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Setetes nutfah yang hina dan menjijikkan itulah dia…”manusia”. Jika ia kufur dan ingkar …. lupa akan asal mula kejadiannya, bermegah-megah dan membanggakan diri akan harta dan kepandaiannya. Mencintai dunia ini dan silau oleh gemerlapnya. Membutakan mata hatinya dari kebenaran dan peringatan Tuhannya, negeri akherat dan dunia yang harus ditinggalkannya manakala kereta ajal telah datang menghampirinya. Kematian yang PASTI, yang tak seorangpun bisa lari darinya, meski untuk menghindari kematian seseorang telah membangun menara yang tinggi, benteng yang kokoh, ataupun ruangan rahasia bawah tanah yang tersembunyi. Meskipun manusia hendak lari sejauh-jauhnya ataupun secepat-cepatnya, kematian pasti akan datang menghampirinya.

Adakalanya seseorang merasa telah cukup dengan apa yang ada pada dirinya, harta yang banyak dan berlimpah beserta penjaga-penjaga dan jaminan asuransinya, anak-anak yang telah diberinya seluruh fasilitas hidup yang memadai, pangkat dan kedudukan yang membuat kebanyakan orang di sekitarnya tunduk memberi hormat. Apapun yang diinginkannya selalu ia dapatkan …. Tapi ia tidak akan pernah mendapati kelanggengan di dunia ini, karena kematian akan memutuskan kelezatan dunia yang dinikmatinya selama ini. Walaupun ia mempunyai harta yang ia yakini akan menjaga dirinya dari segala bahaya yang mengancamnya, tapi ia tak ingat bahwa mudah saja bagi Allah untuk menghendaki kematian seorang manusia, “berbilang sebab tapi mati itu satu”. Kebanyakan manusia dalam dirinya dipenuhi nafsu untuk mendapatkan dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, ia mengejar dunia dan kematian mengejar di belakangnya. Sebelum digenggamnya dunia ini malaikat maut telah mencekik lehernya. Dan apabila ia bersikap qona’ah dan rela akan pembagian-Nya, pastilah Allah akan mencukupkan keperluannya. Dan “cukup” itu lebih baik bagi manusia yang berhati lapang dan penuh kesyukuran daripada “banyak” yang tidak pernah memuaskannya bahkan menjadikannya semakin rakus, ingkar dan jauh dari petunjuk-Nya. Orang-orang yang hidup untuk menggapai kebahagian akherat, Allah akan menambahkan kebahagian itu baginya dan orang-orang yang menghendaki kebahagian dunia, Allah akan memberikan pula hal itu baginya, namun tidak akan diberikan untuknya kebahagiaan di akherat.

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الاْخِرَةِ نَزِدْ لَه فِى حَرْثِه وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِه مِنْهَا وَمَالَه فِى الاْخِرَةِ مِنْ نَصِيْبٍ

Barangsiap yang menghendaki keuntungan di akherat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akherat. (QS. Asy Syura : 20 )

Dalam perjalanan waktu yang kian menjauh manusia lebih sering lupa bahwa ia sedang singgah dari perjalanan panjang, persinggahan yang melalaikan yang dijadikan Allah sebagai ujian bagi manusia. Harta dan anak-anak serta segala keindahan lainnya, yang mereka cintai dan mereka banggakan, seringkali menjadikan lupa kepada Allah telah menggambarkan keindahan hidup di dunia ini sebagai suatu permainan yang melalaikan, seperti tanaman yang ditumbuhkan oleh hujan yang hijau dan keindahannya mengagumkan para petani. Namun seiring musim yang berlalu tanaman itu akhirnya berubah warnanya menjadi kuning, kering dan mati.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akherat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan-Nya dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadid : 20)

Sangat banyak manusia yang “melampaui batas” sikapnya ketika mereka telah merasa cukup dengan harta yang banyak di genggaman tangannya. Mereka lupa bahwa harta itu adalah amanah Allah yang dititipkan kepadanya. Ketika ia tak bisa menggunakannya untuk kepentingan sabilillah, harta itu hanya akan memperberat bebannya kelak di akherat. Dan manakala ia berlebihan dalam mencintainya, ia akan terlemar jauh dari kasih sayang dan kecintaan Allah. Bahkan dengan tidak sadar ia telah meninggalkan kebenaran dan jauh dari kebajikan. Allah telah memberikan ini kepada manusia agar tidak melampau batas terhadap dunia, dan berlomba mencapai kebahagiaan yang lebih kekal yakni akherat. Karena kebahagian di akherat yang dijanjikan Allah adalah lebih baik bagi manusia. Mari kita perhatikan firman Allah yang artinya :

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas alangit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Agar manusia itu selalu menyadari bahwa keindahan dunia ini hanyalah kesenangan yang sedikit. Hendaknya mereka selalu mengingat bahwa kelak kematian akan menghampiri mereka. Sehingga orang yang tidak banyak harta, tidak merasa dirinya hina, dan orang-orang yang kaya tidak merasa dirinya lebih tinggi. Karena harta itu tidak bisa digunakan untuk mengukur ketinggian derajat seseorang. Bahkan harta itu adalah ujian bagi manusia. Mereka yang tidak bisa melangkah lurus dikarenakan harta yang banyak, bagi mereka siksa yang pedih. Dan Allah tidak pernah memandang hamba-Nya dari rupa (wajah) ataupun banyak dan sedikitnya harta mereka. Allah melihat pada hati dan ketakwaan hamba-Nya. Dan tentang ketakwaan itu hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Karena itu hendaknya setiap hamba menjalani hidup ini dengan kepasrahan sepenuhnya kepada-Nya. Mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah selalu berusaha dan berjuang untuk mendapati keridhoan-Nya. Akan tetapi mereka tidak menyesal akan apa yang tidak dikehendaki Allh baginya, dan tidak terlalu bergembira manakala Allah memudahkan keinginan-keinginan mereka. Karena sebanyak apapun yang diraih oleh seorang manusia di dunia ini ia tetap seorang hamba yang lemah dan tidak akan pernah mencapai segalanya. Dan sebanyak apapun yang diraih oleh seorang hamba di dunia ini pada akhirnya akan ditinggalkannya.

مَااَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِىاْلاَرْضِ وَلاَفِى اَنْفُسِكُمْ اَلاَّفَى كِتبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ,اِنَّ ذلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ . لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلى مَافَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوْابِمَا اتكُمْ وَاللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ . الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab ( Lauhul Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ( Kami jelaskan yang demikian itu ) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai seorang yang sombong lagi membanggakan diri. Yaitu orang-orang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” ( QS. Al Hadid : 22 – 24 )

Peringatan Allah di atas sungguh jelas, agar manusia tidak berlebihan dalam mencintai dunia dan senantiasa ingat akan datangnya kematian. Dan hendaknya manusia memilih “Hayatan Thoyibah” menjadi jalan kehidupannya, yaitu jalan kehidupan dimana seorang hamba senantiasa dalam amal soleh dan keridhoan-Nya. Berbuat kebajikan semata-mata mengharap karunia-Nya, karena bagi mereka ada pahala yang lebih baik sebagai janji Allah.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّه حَيوةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An Nahl : 97)

Ciri-ciri dari Hayatan Thoyibah :

1. Rezki Halal

Dalam Al Qur’an Surat An Nahl ayat 97, Allah berfirman bahwa kehidupan yang baik ( Hayatan Thoyibah ) adalah janji Allah bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Karena itu seorang yang beriman dalam perjuangannya untuk memenuhi kebutuhan hidup pastilah akan menempuh jalan yang benar. Dan usahanya tersebut akan mendatangkan rezki yang halal, berkah dan diridhoi-Nya. Ia akan dijauhkan dari barang-barang haram yang dimurkai Allah, disebabkan ia telah memilih amal-amal soleh sebagai sahabat dalam kehidupannya.

2. Qona’ah

Orang-orang yang beriman dan beramal soleh, yang dalam kehidupannya ia mencari rezki yang halal ia akan mempunyai sifat qona’ah. Qona’ah tidaklah berarti malas dalam berusaha. Tetapi qona’ah adalah sifat seorang yang beriman ketika mereka telah berusaha maksimal, dan menerima apa yang ditentukan Allah baginya. Banyak atau sedikit, mudah ataupun sulit, kebahagian ataupun kesedihan diterimanya dengan keluasan hati dan kesabaran. Ia tidak berduka cita ataupun terlalu gembira. Ia mempunyai sikap yang nyata terhadap dunia dan akherat. Jika ia dalam kesulitan ia tidak membawa persoalannya kemana-mana dengan ngresulo dan keluh kesah. Dan jika dalam kelonggaran, kemudahan ataupun harta yang banyak ia tidak berlebihan, sombong ataupun kikir.

3. Sakinah

Adalah kebahagian seorang hamba yang beriman, dan merupakan kebahagiaan yang lengkap. Manakala ia telah berazam untuk beriman dan beramal soleh. Kemudian ia mendapati rezki yang halal, diterimanya dengan qona’ah penuh kesyukuran. Ia pasti akan menemukan ketentraman dan ketenangan hidup (sakinah). Ini adalah janji Allah yang diberikan pada hamba-hamba pilihan-Nya. Yang mendapat petunjuk dan kecintaan-Nya. Hayyatan Thoyibah adalah jalan mencapai kebahagian di dunia dan akherat.

Semoga tulisan yang sedikit ini bisa menjadi awal perenungan panjang, bahwa dunia yang gemerlap ini tidak akan lama kita singgahi. Kematian sebagai pintu yang dijanjikan-Nya pasti akan datang di hadapan kita. Dan kitapun akan memasukinya dengan segala konsekuensi kehidupan yang pernah kita jalani. Marilah kita hidup menempuh jalan dan sikap yang lebih baik. Memupuk jiwa dengan kesyukuran, menjauhkan diri dari kekufuran. Menyongsong kasih dan cinta-Nya sepanjang saat di dunia dan di akherat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: