JALAN MENUJU KETENTRAMAN HIDUP

“Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah (jalan menuju) keselamatan itu? Rasulullah menjawab : “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu itu meluaskanmu dan tangisilah kesalahanmu (HR. Tirmidzi Al Ahwadzi 7 : 87 dan Ahmad) Tirmidzi berkata : hadits ini berderajat hasan

Penjelasan :

Najad : masdhdar dari najaa, yanjuu, najaa-an, najaatan : selamat, beruntung, terlepas dari marabahaya

Amlik : kuasailah. Dalam riwayat Ahmad dipakai kata “Amsik” : Tahanlah. Maksudnya : jangan mudah mengatakan sesuatu sebelum dipikir dan tanpa dipertimbangkan akibat baik dan buruknya, untung dan ruginya.

Ibki : nangislah. Maksudnya : sesalilah

Khati’ah : Kesalahan, dosa

Penjelasan kata :

Selamat dari segala malapetaka, dari gangguan orang-orang jahat dan terutama dari adzab Allah, adalah menjadi idaman setiap mukmin. Yang penting sekarang ialah, jalan apa yang harus ditempuh supaya idamannya itu tercapai. Disinilah letaknya, hingga sahabat “uqbah bin ‘Amir merasa perlu menanyakan kepada Rasulullah SAW. Yang selanjutnya oleh Rasulullah SAW dijawab, ada tiga hal yang harus secara aktif diperhatikan dan dilaksakan, yaitu :

1. Menguasai lidah

2. Rumah yang luas

3. Menangisi kesalahan

1. Menguasai lidah

Lidah adalah salah satu anggota badan manusia yang vital sebagai alat komunikasi antar sesamanya. Sebagai alat komunikasi, kadang-kadang bisa dipergunakan untuk hal-hal yang baik dan kadang-kadang bisa juga untuk hal-hal yang tidak baik. Bahkan seringkali kehancuran ditengah-tengah masyarakat, adalah diakibatkan oleh lidah. Perang dan damai adalah juga atas peran lidah.

Oleh karena itu lidah ini harus dijaga baik-baik, jangan mudah dipergunakan, kecuali dalam hal-hal yang baik dan manfaat. Untuk itu pikirkanlah lebih dahulu dengan mempertimbangkan akibat yang mungkin bakal terjadi, sebelum lidah digerakkan, supaya tidak tergelincir dan hidup ini bisa selamat.

Banyak sekali kita temui ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah yang membicarakan soal lidah ini, sampai-sampai Mua’adz bin Jabal terpaksa harus bertanya kepada Rasulullah SAW. : Apakah kami ini akan dihukum lantaran berkata-kata? Kemudian Rasulullah SAW menjawab :

Tidaklah wajah atau tengkuk manusia itu ditelungkupkan ke neraka, melainkan karena buah dari lidahnya” (Hadits)

Lidah berperan begitu besar, sehingga ia juga akan merupakan ukuran iman, seperti diterangkan oleh Rasulullah SAW :

Iman seseorang tidak akan lurus, sehingga hatinya lurus, sedang hati tidak akan lurus hingga lidahnya lurus” ( HR. Ahmad)

Lidah yang lurus itu, disebut juga lidah yang benar (lisan shidiq) lidah para Nabi dan orang-orang shaleh. Seorang penyair mengatakan :

“awas lidahmu, hai manusia

ia adalah ular, awas engkau disengat

berapa banyak kubur manusia yang terbunuh karena lidahnya

pasukan berkuda sendiri takut bertemu lidah.

2. Rumah yang luas

Rumah termasuk kebutuhan pokok manusia, sebagai tempat berteduh, tempat istirahat dan tempat bersenag-senang dengan keluarga. Karena itu diperlukan rumah yang luas. Namun semata-mata luasnya rumah, belum bisa menjamin keselamatan manusia, kalau rumah yang luas itu justru dihuni manusia-manusia yang tidak bermoral dan tidak bisa mengatur perkakas rumah.

Karena itu, ketika mensyarah hadits tersebut Syeh Al Mabar Kafuri dalam syarah Tirmidzi mengatakan, dianjurkan membuat rumah yang luas, karena fungsi rumah yang sebenarnya untuk kesibukan bekerja dengan mengaharap riha Allah, bersenang-senang dengan mentaati hukum-hukum Allah serta tempat melaksanakan sesuatu keperluan yang tidak pantas dilihat orang (Tuhfatul Ahmadzi 7 : 87)

Sementara Al Qur’an mengatakan, bahwa rumah adalah sebagai tempat tinggal yang damai (sakanan) dan melindungi diri dari dingin dan terik matahari.

dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)” (S. An-Nahl : 80)

Disitu Allah menyebutkan tempat tinggal dengan kata “sakanan”, yang arti leterleknya adalah “tenang”. Maka rumah sebagai tempat tinggal itu hendaknya merupakan tempat tinggal yang tenang. Rumah yang sedemikian itu akan terwujud manakala para penghuninya taat dan bertaqwa kepada Allah.

3. Menangisi Kesalahan

Berbuat suatu kesalahan adalah sudah menjadi ciri khas manusia. Karena itu tidak ada manusia yang tidak berbuat salah kecuali Nabi SAW. Yang memang dijaga selalu oleh Allah (ma’shum). Dalam pengertian setiap kali cenderung hendak berbuat salah segera diperingatkan dan Nabi itu sendiri sadar serta sam’an watha’atan, atas peringatan itu.

Karena itu pula, kalau ada seorang Nabi ditegur dengan keras oleh Allah atas sesuatu sikapnya, maka hal itu bukan karena Nabi tersebut salah, tetapi teguran itu adalah merupakan hukum peringatan buat umat-umatnya yang sekaligus merupakan hukum yang harus diterangkan kepada umatnya. Sebab pada umumnya teguran atas sesuatu perbuatan Nabi itu terjadi sebelum ada hukum (wahyu yang melarangnya), sebab sesuatu perbuatan baru dianggap salah kalau sebelumnya sudah ada hukum yang mengatur. Misalnya Nabi Muhammad SAW, ditegur oleh Allah karena berpaling ketika Ibnu Ummi Maktum yang buta itu datang kepadanya, sedang ketika itu Rasulullah tengah mengadakan pembicaraan serius dengan tamunya. Beliau juga pernah ditegur ketika beliau bersumpah tidak mau minum madu, karena ‘Aisyah dan Hafshah cemburu. Kedua macam teguran itu selanjutnya menjadi hukum

Di dalam Al Qur’an sendiri Allah sudah mengisyaratkan akan kemungkinannya manusia berbuat salah (Sy Syams : 8) “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” Kendatipun jalan yang lurus itu sudah dibentang dihadapannya, namun ada pula kecenderungan manusia untuk berjalan di luar jalur yang telah diatur itu :”Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (Al Insan : 3)

Namun, apakah kalau dia sudah terlanjut berbuat salah, lalu dibiarkan larut dalam kancah kenistaan itu? Karena dia sudah terlanjur lewat jalur yang salah itu, lalu dibiarkan terus melaju?

Tidak! Jangan sampai ia terus larut dan melaju, karena jika terus akan berakibat tidak baik, buat dirinya sendiri maupun buat orang lain. Nila setitik dapat merusak susu sebelanga. Bunga api yang sekecil itu dapat membakar gedung yang besar dan megah. Dan begitulah seluruh malapetaka di persada ini, adalah sebagai akibat oleh segelintir manusia : “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syuaara : 30)

Sebelum semuanya itu terjadi, maka segeralah berhenti dari berbuat salah dan menyesali atas kesalahan-kesalahannya itu Itulah tanda seorang mukmin yang baik, dan itulah jalan menuju keselamatan. Rasulullah bersabda :

Jika kebaikanmu itu menggembirakanmu dan kesalahanmu itu menyedihkanmu, maka engkau adalah seorang mukmin. Lalu beliaupun ditanya lagi, apakah (ciri/jalan) dosa itu? Jawab beliau : Jika ada sesuatu (pikiran yang kurang baik) dalam hatimu, maka tinggalkanlah ia” (HR. Ahmad)

Mafhumnya, berat untuk disebut sebagai seorang mukmin, berat untuk bisa mencapai keselamatan, kalau seseorang itu gemar berbuat salah tanpa merasa kikuk dan menyesal. Berat pula dia akan bisa berhenti dari kesalahan, kalau setiap gerakan hati itu diperturutkan. Wallahu a’lam.

Brosur : Ahad, 7 Pebruari 1993.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: