PERCAKAPAN YANG SIA-SIA

Jauh dari omong sia-sia adalah salah satu dari sendi kebahagiaan dan bukti kesempurnaan (pribadi seseorang). Hal ini disebutkan dalam Al Qur’an antara dua kewajiban dari kewajiban-kewajiban Islam yang paling kokoh, yaitu : shalat dan zakat.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (1) (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, (2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (3) dan orang-orang yang menunaikan zakat (4)” ( Al-Mukminun : 1 – 4 )

Kalau dunia ini seluruhnya mengadakan penelitihan untuk mengisi kekosongan dari perkataan dan perbuatannya yang sia-sia itu, niscaya dari sejumlah kisah yang cukup besar dan lembaran yang cukup masyhur, dari berbagai pidato dan siaran itu akan ditemukan kesia-siaan yang memukau, yang dapat memikat mata untuk melihatnya dan menarik telinga untuk mendengarkannya serta tidak bisa ditarik manfaatnya.

Islam sama sekali tidak menyukai perbuatan sia-sia ini, karena Islam itu sendiri memang sama sekali tidak suka hal-hal yang remeh dan rendah, dimana perbuatan sia-sia itu dapat menyia-nyiakan umur, yang justru bukan untuk buat yang serius dan berproduksi. Oleh karena itu sebanyak itu pulalah tingkatan derajatnya dihadapan Allah. Anas bin Malik meriwayatkan : ”ada seorang laki-laki meninggal dunia, lalu ada orang lain yang berkata : Gembiralah dia dengan syurga – padahal Rasulullah SAW. Sendiri mendengarnya – Lalu Rasulullah SAW. Bertanya : Apakah engkau tidak tahu, barangkali saja ia berkata sesuatu yang tidak berarti, atau dia bakhil untuk mengeluarkan sesuatu (miliknya) yang sebenarnya (jika diberikan) tidak akan menguranginya?” (HR. Tirmidzi)

Orang yang berbuat/berbicara sia-sia dan tidak berarti itu adalah karena kelemahan berkomunikasi antara pikiran dan pembicaraannya, sehingga dengan mudah ia melepaskan omongannya tanpa dipikir lebih jauh, bagaikan bulu yang dicelup ke dalam air, yang barangkali dia akan melemparkan omongan yang menyebabkan kebiasaannya dan menghancurkan masa depannya sendiri.

Tepat kata ahli-ahli hikmah : “Barangsiapa yang banyak omong akan banyak salah”

Seorang penyair juga mengatakan : “Seorang pemuda mati karena terpeleset lidahnya, tetapi seorang tidak mati karena terpeleset kaki”

Dalam salah satu hadits Rasulullah SAW. Disebutkan : “Bahwa seorang hamba sungguh akan berkata dengan sesuatu perkataan, yang tidak lain apa yang dikatakannya itu melainkan supaya membuat majlis itu tertawa, yang dengan perkataannya itu dia ingin melompat lebih jauh antara langit dan bumi. Dan bahwa seseorang sungguh akan lebih berbahaya karena terpelesetnya lidah daripada terpelesetnya kaki” (HR. Baihaqi)

Oleh karena itu kalau seseorang hendak berbicara, maka berbicaralah yang baik, biasakanlah lidahnya itu untuk bertutur kata yang indah, karena redaksi yang baik itu adalah kesopanan yang sangat tinggi, yang oleh Allah telah ditetapkannya sebagai hukum untuk segenap umat beragama.

Al Qur’an sendiri menegaskan, bahwa perkataan yang baik adalah inti perjanjian yang dilakukan terhadap Bani Israil di zaman Musa AS. : “dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (Al Baqoroh : 83)

Perkataan yang baik dan bersih berlaku terhadap sesama kawan maupun lawan dan akan membuahkan buah yang manis. Kalau perkataan itu disampaikan kepada sesama kawan, maka akan dapat melestarikan hubungan mawaddah dan mengekalkan persahabatan serta membendung kilah syetan yang hendak mengulurkan tali mereka dan hendak merusak persahabatan sesama mereka.

Maka Firman Allah kepada Muhammad : “dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al Isra’ : 53)

Syetan senantiasa mengintai manusia untuk menjatuhkan permusuhan dan kebencian sesama mereka. Dari pengaruh yang rendah itu syetan akan menjadikannya sebagai alat pertumpahan darah yang tidak dapat dibendung lagi. Berbeda dengan omongan yang baik, sekalipun terhadap musuhnya, maka omongan yang baik itu akan meredakan api khusumat. Ia akan bisa mematahkan ketajaman permusuhan. Atau paling tidak akan dapat menghentikan keberlangsungan kejahatan. Memang : ”dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.  Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” ( Fushilat : 34 )

Membiasakan bertutur kata yang baik dalam situasi apapun itu, oleh Rasulullah SAW. digambarkan sebagai berikut : “Sesungguhnya kalian tidak akan mampu berbuat baik yang meliputi seluruh manusia dengan hartamu, tetapi kalaian akan mampu berbuat baik untuk seluruh manusia itu cukup dengan berseri-serinya wajah dan budi pekerti yang baik” (HR Bazzar)

Bahkan Rasulullah SAW sendiri menilai, bahwa tidak memberi orang yang minta-minta dengan cara yang sopan itu justru lebih baik daripada memberi tetapi disertai dengan sikap yang rendah, seperti ditegaskan Allah dalam firman-Nya : “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan  (perasaan  si penerima).  Allah  Maha Kaya lagi  Maha Penyantun.”      (Al Baqoroh : 263)

Perkataan yang baik adalah peringai yang mencerminkan kebaikan budi dan keluhuran yang sangat membawa manusia untuk memperoleh keridhoan Allah dan kenikmatan nan abadi. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : “Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW : Ajarlah aku suatu amalan yang akan menyebabkan aku masuk syurga ! Maka jawab Nabi : Berilah makan fakir miskin, sebarkanlah salam dan shalatlah dimalam  hari  saat manusia  sedang   tidur, maka engkau akan masuk syurga” (HR. Al Bazzar)

Allah ‘Azza wajalla juga memerintahkan kita dalam menghadapi pengikut-pengikut agama lain, hendaklah hujjah kita itu kita sampaikan dengan bahasa yang baik, bukan menyerang dan bukan menentang, kecuali kalau mereka menghadapi kita dengan sikap-sikap yang tidak baik, maka kejahatannya itu harus dilawan dan permusuhannya itu harus dihentikan.

“dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka” (Al Ankabut : 46)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: