Berfikir Benar

بسم الله الرحمن الرحيم
Bagaimana kita berfikir, maka seperti itulah kehidupan kita. Sebagaimana segala sesuatu bisa ditebak dengan melihat wadah dan tempatnya. MARCUS AURELIUS, seorang Kaisar Romawi mengatakan, “Hidup kita dibentuk oleh pikiran kita”. Dan Rasulullah SAW pernah menasehati kita umatnya
dalam sebuah sabda beliau : ”Barangsiapa yang rela maka baginya kerelaan, dan barangsiapa yang benci maka baginya kebencian”. Memang demikanlah adakalanya seseorang menerima ujian dan cobaan-Nya dengan dada sempit dan jiwa penuh kemurungan ia merasakan deritanya yang bertindih-tindih dan adapula seorang yang berlapang hati menghadapi kesulitan di hadapan langkah kakinya. Kesadaran bahwa ujian yang menimpanya hanyalah perputaran hidup yang mesti di lewati, kesabaran menjalaninya akan melahirkan kemudahan serta gugurnya dosa dan kesalahan di masa lalu, maka tidakkah kita rela menjalani kepahitan jika itu mampu dan bisa membersihkan hati dan jiwa ?
Suatu ketika Rasulullah SAW mengunjungi seseorang yang sedang menderita sakit, beliau menasehati dan bersabda: “Semoga penyakitmu menjadi penawar dosa-dosamu”, akan tetapi orang tersebut menjawab, “Tapi ini adalah demam yang mendidih, menimpa seorang yang tua renta yang akan menghantar dan menyeretnya pada kematian”. Mendengar keluhan tersebut Rasulullah bersabda : ”Jika demikian, akan seperti itu pulalah yang terjadi dan kau rasakan”. Memang demikianlah, kesulitan dan cobaan yang menimpa seseorang akan bertambah berat jika dihadapi dengan keluh kesah serta keputus-asaan. Dan apabila dilewati penuh kesabaran serta pengharapan yang besar akan kemudahan serta pertolongan dari-Nya maka jalan ujian itupun akan penuh dengan pahala dan kebajikan bahkan seandainya kematian yang mengakhirinya sekalipun, maka syurga dan kasih sayang Allah yang akan menyambutnya.
Sesungguhnya satu pekerjaan yang sama, akan menjadi berbeda dan amat berlainan jika dilakukan oleh dua orang yang berbeda pikiran dan isi benaknya. Penggambaran yang nyata dan amat jelas telah diberikan-Nya untuk menjadi petunjuk dan pandangan hidup bagi manusia selamanya dalam firman-Nya yang artinya :
“Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.
Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya di jalan Allah sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk mendapat do’a Rasul. Ketahuilah sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (syurga)-Nya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS.AT TAUBAH : 98 – 99 )
Dalam ayat di atas kedua orang tersebut sama-sama menafkahkan hartanya di jalan Allah, namun orang yang pertama menganggap perbuatan tersebut sebagai suatu hal yang berat dan beban yang dibenci maka ia mengeluarkan harta dan mendapat dosa. Sedang orang lain menganggap nafkah sebagai suatu ibadah yang menyucikan jiwanya, membersihkan dirinya serta menjadikannya dekat kepada Allah. Padahal kedekatan pada Allah adalah segalanya tidak bisa ditukar dengan harta sebanyak apapun.
Segala hal yang kita kerjakan sangat berkaitan dengan isi benak dan pemikiran kita. Nilai yang kita peroleh akan sangat banyak tergantung dengan apa yang berputar di akal dan berkecamuk dalam jiwa. Karena itu bisa disimpulkan bahwa kita bisa keluar dari banyak kesulitan dalam kehidupan kita yang panjang ini dengan senantiasa memilih pemikiran yang benar, isi hati yang baik dan selalu dalam kebijaksanaan langkah yang ditempuh. Dan jawaban dari semua ini tidak lain adalah kembali pada ketentuan-Nya yakni kebenaran Al Qur’an yang telah di tetapkan Allah untuk mendasari pemikirannya agar senantiasa dalam fikiran yang benar.
Dan sesungguhnya setiap orang akan sadar dan yakin dengan penglihatan bahwa agama dan kebaikan yang tertanam kokoh dalam hati seseorang akan mempunyai kekuatan yang tak terkalahkan. Sungguh zaman telah membuktikan kenyataan ini bahwa telah berulangkali dan banyak peristiwa tentang dua pasukan yang berhadapan, meskipun yang satu adalah kelompok yang tidak seberapa jumlahnya ternyata ia mampu melawan banyaknya pasukan musuh dengan persenjataan yang lengkap, karena kokohnya agama, tegaknya moral, luasnya ketabahan membentangnya kesabaran serta keyakinannya pada Allah.
Dan memang cara berfikir yang benar ini adalah landasan dasar dan utama yang ditekankan oleh agama ini. Seseorang yang dalam jiwanya telah ada pikiran yang benar, maka ia akan menjumpai kepercayaan dalam dirinya tumbuh yang menjadikannya jauh dari keputus-asaan. Meskipun ada kekurangan dalam dirinya atau kehidupannya. Bahkan hal tersebut seringkali justru mampu menyemangatinya dan membawanya pada keberhasilan hingga ia dapat berada pada jajaran orang-orang yang dicintai Allah.
Sesungguhnya berfikir benar itu “benar-benar” mampu merubah keadaan. Seseorang yang pada awalnya terpuruk dalam kebodohan atau langkah dan sikap yang tak tentu arah, ketika akalnya terbuka untuk berfikir benar maka ia akan berubah menjadi seorang yang baik akhlaqnya serta bijak langkahnya. Karena itu kita seringkali menyaksikan sebuah perubahan yang menakjubkan dari seseorang yang masa kecil atau remajanya sangat susah di atur dan dikendalikan maka ketika ia menemukan pemikiran yang benar dan jalan yang diridloi sang Khaliq, semuanya akan berubah. Sebenarnya kita sendiri bisa mengambil pelajaran yang banyak dari diri kita sendiri. Masa dan waktu yang telah kita lewati telah memberikan pengalaman yang banyak hingga kita bisa meningkat dan maju selangkah demi selangkah, berubah dari waktu ke waktu dan mengalami pergeseran yang jauh dari keadaan semula.
Orang-orang yang cara berfikirnya salah mengakibatkan sakit jiwanya, hingga akal yang seharusnya banyak membantunya, justru menjadikannya semakin gelap terjebak dalam kebodohan bisa jadi menjatuhkannya dalam kehinaan dan kenistaan. Seseorang yang “sakit jiwanya” karena berfikir yang salah akan kehilangan “pandangan” yang benar. Orang-orang yang ada di sekelilingnya ia anggap sebagai musuh dan saingannya, akan dirasakannya bahwa mereka selalu berburuk sangka dan mendengkinya. Iri dan tidak suka dengan kebaikan yang ada padanya. Marilah kita cermati betapa salahnya cara berfikir ini, betapa jauhnya ia dari Islam dan kebenaran. Karena Islam menghendaki dan menuntun manusia pada perbuatan suci dan bersih. Dimana hati seorang hamba harus bersih dari prasangka buruk dan jiwa yang kotor. Agama yang lurus ini menganjurkan pada abdillah untuk menyambung persaudaraan dan berbuat baik pada siapapun, dalam menerima kebaikan orang lain harus dibalasi dengan kebaikan yang lebih baik atau setimpal. Ketika orang lain berbuat tidak baik kepadanya maka pema’af itu lebih baik baginya. Seseorang yang telah menjadikan Islam ini warna jiwanya, maka keadaan seperti apapun yang dialaminya ia akan tetap ada dalam kebaikan dan cara berfikir yang benar dan yang pasti dalam kecintaan Allah. Maka tidaklah ada keadaan yang lebih baik dari semua ini.
Ada pula kisah yang lain yang berbeda, ada seseorang yang jiwanya tidak tenang senantiasa di landa kesedihan dan kegalauan karena berbagai masalah yang dihadapinya maka iapun pergi ke satu tempat ke tempat lain agar ditemukan ketenangan dan hilang kerisauannya. Namun hal ini tak didapatinya, tempat apapun dan dimanapun ia kunjungi kerisauan itu tetap mengikutinya. Akhirnya ayahnya mengirim surat padanya agar ia kembali, karena bagaimana ia bisa menghalau gundah hatinya jika yang menyebabkan kegundahan itu adalah dirinya sendiri, isi hatinya serta cara berfikirnya. Memang benar berfikir baik dan benar tidaklah semudah mengedipkan kedua belah mata tapi ia mengharuskan kita melewati langkah demi langkah serta perjalanan. Dan hanya inilah yang baik serta jalan haq yang harus kita lewati. Berfikir menjadikan otak kita tenang dan menjadikan kita bisa dengan penuh kesadaran memandang diri kita dalam cermin kebenaran untuk selanjutnya memperlakukannya dengan baik untuk meraih kemuliaan.
Sesungguhnya untuk itulah agama ini turun untuk membasuh dan menyucikan jiwa manusia. Membangun akhlaq yang dilandaskan pada cara berfikir yang benar. Karena ia membentuk tabiat serta perilaku manusia. Akhlaq yang mulia akan menjadikan langgeng sebuah peradaban akan tetapi jiwa-jiwa kebanyakan manusia itu senantiasa dilanda kerusakan bencana dan kekacauan , ia mampu melanggar segala aturan untuk perbuatan-perbuatan nista. Sedang manusia yang mempunyai jiwa baik serta mulia menghadapi keadaan yang buruk dengan perbuatan baik, jiwa besar dan kesabaran. Ia tetap teguh meski dalam lingkaran badai yang menyergapnya. Seorang hakim yang baik bisa menyempurnakan undang-undang hingga keadilan dan kebenaran semakin tegak. Dan seorang hakim yang berperilaku kotor akan mudah menyelewengkan aturan-aturan yang lurus, hingga kerusakan terus melanda alam ini.
Sesungguhnya hanya dengan perbaikan jiwa, kebaikan bisa tegak berdiri di dunia ini menghalau kegelapan, menjauhkan fitnah, memusnahkan kebohongan dan sebagainya.
“ ….. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada dirinya sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suau kaum maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” ( Q.S AR RA’AD : 11 )
Dan dalam ayat yang lain :
“(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka di sebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksa-Nya. Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dan sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.”
(Q.S AL ANFAL : 52- 53 )
Sesungguhnya firman Allah tersebut sungguh memberikan penggambaran yang jelas dan nasehat yang pasti kebenarannya. Bahwa ada kaitan yang sangat erat antara kebersihan jiwa dan kententraman hidup, antara keindahan akhlaq dan kehidupan yang baik. Sesungguhnya Allah menjanjikan kasih-sayang-Nya, perasaan aman, rezki-Nya, kemudahan serta pertolongan-Nya. Memberikan kemurahan dan kebaikan bagi mereka yang beriman, yang bertaqwa, taat serta banyak berbuat kebajikan. Akan tetapi Allah juga menghukum manusia atas kesalahan dan dosa-dosa serta pengingkarannya pada Allah dan kebenaran. Namun sesudah hukuman itu berlalu Allah memberi pengharapan akan masa depan yang lebih baik, dengan taubat, Allah akan membuka lebar pengampunan bagi mereka, sehingga mereka bisa kembali menggapai kasih sayang dari Allah. Namun kasih dan kemurahan-Nya itu tergantung pada perubahan jiwa dan dirinya. Dimana mereka bisa menanggalkan kesombongan dan menggapai sikap-sikap yang baik dan kerendahan hati. Higrah dari keburukan akhlaqnya kepada perbuatan-perbuatan yang lahir dari pemikiran yang benar yang dilandasi oleh apa-apa yang turun dari –Nya.
Islam adalah agama yang mengutamakan pendidikan jiwa untuk kemudian dengan segala kebajikan memoles dan mewarnainya dengan warna yang tidak begitu saja hilang dan pudar. Akan tetapi dari dalam jiwa tersebut akan hadir dari tumbuh kebahagian terbesar. Islam menanamkan sikap bahwa kebahagian itu ada pada diri kita sendiri bukan dari manapun. Orang lain, alam, keadaan zaman, latar belakang keluarga, di mana kita tinggal, di mana kita pernah bersekolah semuanya tidak banyak berperan. Di dalam diri kita, jiwa kita akal kita, nurani serta pemikiran kita, itulah yang menentukan jalan mana dan kehidupan seperti apa yang kita pilih. Cobalah mari kita buka mata kita untuk berfikir lebih jernih dan luas. Bahwa kebahagian dan ketentraman itu hanya ada pada diri dan hari kita yang senantiasa ingin dan berpengharapan pada Allah.
Dan akhirnya, marilah kita mencoba untuk selalu berfikir benar, memperbaharui akal dan pandangan dengan Islam yang jauh dari kesempitan, dan insya Allah akan kita jumpai sangat banyak perubahan dalam diri kita. Pergeseran terbaik dan kemajuan-kemajuan terindah yang ada kalanya kita sendiri sulit untuk mempercayainya. Tapi ini adalah jalan yang pasti dan tak akan ada sedikitpun kerugian di dalamnya

DWI HANDAYANI SANDIYA GEMOLONG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: