Cernak

PERJALANAN CAMEL DAN MAHBUB

Matahari telah jatuh tergelincir, rona merah jingga berhamburan diufuk barat. Camel dan Mahbub terduduk lemas kedua matanya basah, wajahnya penuh kelelahan. Rasa putus asa telah bergemuruh dalam hati mereka. “Kak … kita tak mungkin menemukan ibu, ini semua salahku …”. Kata-kata Mahbub penuh penyesalan, onta yang belum beranjak dewasa itu menangis mengingat kenakalannya sendiri. Tadi sewaktu rombongan yang membawanya beserta ibu dan kakaknya istirahat ia bermain-main sendiri. Karena mainnya terlalu jauh ia tertinggal rombongan ibunya. Sang ibu bertugas membawa barang-barang milik Tuan Abud. Camel kakaknya, setelah sadar adiknya tidak ada dalam rombongan itu segera bergegas mencari si adik. Maka keduanyapun tertinggal. Mereka berdua telah berusaha kesana kemari untuk menyusul rombongan Tuan Abud. Namun sampai saat ini tanda-tanda bahwa mereka akan berjumpa dengan rombongan tersebut belum juga mereka temui.
“Sudahlah dik … semua telah terjadi, kamu jangan menangis terus. Ayo kita cari ibu dan rombongan Tuan Abud”. Sang adik mengangguk, merekapun berjalan beriringan menuju arah yang begitu asing bagi keduanya.Kaki terus melangkah, rasa haus ,lapar, dan keletihan smakin mendera.Kini hanya keputusasaan yang semakin menghimpit.
Perlahan senjapun usai, malam datang semakin pekat, gemerlap bintang menaungi langkah-langkah Camel dan Mahbub. Cahaya perak bulan separuh menerpa kakak adik itu. Kesedihan rasa takut dan kawatir menyergap setiap arah. Camel menghentikan langkahnya, “Adik … kita istirahat dulu ya. Lihat gundukan batu di sana, ayo kita tidur dan istirahat disana.” Iya kak… “ jawab Mahbub pelan. “Aku kasihan pada ibu kak, mengapa aku tak mengindahkan nasehat beliau, sekarang ibu pasti sedih dan bingung memikirkan kita.” Lanjut si Mahbub lagi. Kakaknya terdiam lalu menawab “Adik yang penting kamu sekarang sudah menyesali peruatanmu itu, dan tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang kita tidur dulu kemudian besok kita melanjutkan perjalanan lagi.” Sebelum tidur mereka berdoa memohon kepada Allah agar Dia menolong mereka dan mengeluarkan mereka dari kesulitan ini.
****
Pagi menyapa …angin dingin menerpa lautan pasir, dedaunan kurma melambai pelan, bintang gemintang tenggelam satu demi satu. Camel dan Mahbub telah terbangn sejak tadi ketakutan dan kegelisahan yang mengusik hati membuat keduanya tak dapat tidur dengan nyenyak. Camel juga sudah berniat berangkat lebih pagi. Dia berharap akan segera bertemu dengan sang ibu. Sebelum mentari menampakkan dirinya kedua kakak adik meneruskan perjalanannya. Camel merasa iba kepada adiknya, sejak kemarin mereka belum makan dan minum. Perut terasa melilit dan tenggorokan kering. Saat mereka telah jauh berjalan Mahbub berhenti, wajahnya begitu pucat “Ayo dik istirahat dulu”. Camel membawa adiknya ke bawah pohon kurma, Camel cemas… dia takut adiknya akan sakit karena lapar dan haus. Iapun meninggalkan adiknya seorang diri di bawah pohon kurma. Camel berjalan sendiri dan mencari-cari siapa tahu akan ditemukan sebuah oase. Nun jauh disana dilihatnya sumber air yang jernih. Hatinya pun gembira, ia berharap segera mendapatkan air untuk ia minum beserta sang adik. Camel setengah berlari mendatangi air itu, tapi setelah dekat wow … ternyata ia menghilang. Camel terduduk lemas, iapun semakin putus asa. “Ya Allah hamba mohon air kepadaMu….” Saat itulah ia mendengar ringkik suara kuda. Pengendara kuda itu seorang kakek tua yang kurus, bahkan kuda yang ditumpangi sang kakek lebih kurus lagi. Setelah dekat Camel bisa melihat bahwa kakek tua itu tidak membawa bekal apapun selain sebotol air minum. Camel berandai-andai seandainya kakek itu membawa lebih air minum, tentu ia akan memintanya dan sebagai imbalannya ia akan melakukan apapun untuk sang kakek.
Camel melihat kakek itu istirahat dan tertidur, begitu inginnya ia mencuri botol minum itu, namun Camel tak ingin melakukan perbuatan dosa yang dibenci oleh Allah.
Saat ia sadar iapun segera berlari tidak tahu arah mana, yang terpenting baginya ia segera mendapatkan makanan dan minuman untuk adiknya. Tiba-tiba ia mendengar suara keluarga kambing yang mengembik-embik. Bahagia sekali hati si Camel, Iapun segera menemui induk si kambing. “Tolonglah saya induk kambing, aku dalam kesulitan. Aku dan adikku tertinggal rombongan ibuku, aku butuh makanan dan minuman.” Induk si kambing merasa iba, tapi karena ia punya 30 ekor kambing kecil, ia tak bisa memberi makan dan minum yang cukup untuk si Camel
Setelah menghaturkan banyak terima kasih si Camelpun pergi meninggalkan keluarga kambing itu. Ia bergegas menemui adiknya kembali. Ditengah perjalanan tiba-tiba … Dhuaaar….. reeeet. Camel terkejut, makan dan minum yang ia bawa tertumpah di jalan. Iapun menangis. Seekor Kerbau gurun yang gendut keluar dari balik gundukan batu. “Maafkan aku nak itu tadi suara kentutku, aduh kasihan sekali makanan dan minumanmu tumpah. Camel berkata “Tidak apa-apa Tuan…”. Kerbau gurun itu segera menawarkan agar Camel berkunjung kerumahnya, iapun akan membantu semua kesulitan dan kesusahan yang dialami Camel. Sebelumnya Tuan Kerbau gurun memanggil ambulan untuk mengambil Mahbub yang ditinggalkan oleh Camel di bawah pohon Kurma. Tidak berapa lama Mahbub yang lemah karena lapar dan haus segera mendapat perawatan khusus dari tim kesehatan pribadi Tuan Kerbau gurun.
“Tuan… aku dan adikku ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kebaikan Tuan”
“Oo sama-sama nak. Kalau masih ada yang bisa kami bantu katakan saja.” Jawab Tuan Kerbau gurun.
“Tidak Tuan terima kasih banyak, kami hendak mohon diri untuk meneruskan perjalanan. Karena kami harus mencari ibu kami.” Kata Camel yang diiyakan dengan anggukan oleh adiknya.
Tiba-tiba Tuan Kerbau gurun mengernyitkan dahinya seolah-olah mengingat sesuatu.” Eee… sebentar…. jangan-jangan kalian berdua adalah anak onta kakak beradik yang kemarin dimuat di surat kabar dalam berita anak hilang. Sebentar apakah asal kalian dari perkampungan Onta gurun Sindu ?”
“Benar sekali.” Jawab Mahbub dan Camel hampir bersamaan.
“Kalau begitu tunggulah disini, aku akan menghubungi ibumu agar aku bisa mengantarkanmu ya?” kata Tuan Kerbau gurun penuh keyakinan.
Begitulah akhirnya Tuan Kerbau gurun mengantar Camel dan Mahbub menemui sang ibu. Ibu memeluk kedua anak kesayangannya. Mahbub menangis dan menyesali kesalahnya. Apa yang terjadi menajdi pelajaran yang berharga. Bahwa nasehat danpetuah orang tua harus selalu diingat dan dilaksanakan. Tak lupa sekali lagi mereka bertiga mengucapkan terima kasih atas kebaikan Tuan Kerbau gurun. Juga syukur tak terhingga kepada Allah sang Maha Pencipta atas cinta dan karunia-Nya.
Senja berlalu … malam beranjak menidurkan semua makhluk-Nya dalam buaian mimpi dan angan. Hingga esok saat pagi menjelang … tuk jalani kehidupan selanjutnya.

Sri Anisa Prahasti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: