Renungan

Hayyatan Thoyyibah

“Hayyatan thoyibah” adalah pengharapan …, cita-cita serta keinginan manusia yang berakal. Ia mengawali langkah kakinya dengan kesadaran mendalam. Bersikap baik dan menghadapi hidup dengan kebijakan. Kesadaran seorang hamba yang menjadikan tinggi jiwanya karena ketaqwaan, keimanan dan kepasrahannya pada sang khaliq. Seorang hamba yang kecil yang berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Setetes nutfah yang hina dan menjijikkan itulah dia…”manusia”. Jika ia kufur dan ingkar …. lupa akan asal mula kejadiannya, bermegah-megah dan membanggakan diri akan harta dan kepandaiannya. Mencintai dunia ini dan silau oleh gemerlapnya. Membutakan mata hatinya dari kebenaran dan peringatan Tuhannya, negeri akherat dan dunia yang harus ditinggalkannya manakala kereta ajal telah datang menghampirinya. Kematian yang PASTI, yang tak seorangpun bisa lari darinya, meski untuk menghindari kematian seseorang telah membangun menara yang tinggi, benteng yang kokoh, ataupun ruangan rahasia bawah tanah yang tersembunyi. Meskipun manusia hendak lari sejauh-jauhnya ataupun secepat-cepatnya, kematian pasti akan datang menghampirinya.

Adakalanya seseorang merasa telah cukup dengan apa yang ada pada dirinya, harta yang banyak dan berlimpah beserta penjaga-penjaga dan jaminan asuransinya, anak-anak yang telah diberinya seluruh fasilitas hidup yang memadai, pangkat dan kedudukan yang membuat kebanyakan orang di sekitarnya tunduk memberi hormat. Apapun yang diinginkannya selalu ia dapatkan …. Tapi ia tidak akan pernah mendapati kelanggengan di dunia ini, karena kematian akan memutuskan kelezatan dunia yang dinikmatinya selama ini. Walaupun ia mempunyai harta yang ia yakini akan menjaga dirinya dari segala bahaya yang mengancamnya, tapi ia tak ingat bahwa mudah saja bagi Allah untuk menghendaki kematian seorang manusia, “berbilang sebab tapi mati itu satu”. Kebanyakan manusia dalam dirinya dipenuhi nafsu untuk mendapatkan dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, ia mengejar dunia dan kematian mengejar di belakangnya. Sebelum digenggamnya dunia ini malaikat maut telah mencekik lehernya. Dan apabila ia bersikap qona’ah dan rela akan pembagian-Nya, pastilah Allah akan mencukupkan keperluannya. Dan “cukup” itu lebih baik bagi manusia yang berhati lapang dan penuh kesyukuran daripada “banyak” yang tidak pernah memuaskannya bahkan menjadikannya semakin rakus, ingkar dan jauh dari petunjuk-Nya. Orang-orang yang hidup untuk menggapai kebahagian akherat, Allah akan menambahkan kebahagian itu baginya dan orang-orang yang menghendaki kebahagian dunia, Allah akan memberikan pula hal itu baginya, namun tidak akan diberikan untuknya kebahagiaan di akherat.

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الاْخِرَةِ نَزِدْ لَه فِى حَرْثِه وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِه مِنْهَا وَمَالَه فِى الاْخِرَةِ مِنْ نَصِيْبٍ

Barangsiap yang menghendaki keuntungan di akherat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akherat. (QS. Asy Syura : 20 )

Dalam perjalanan waktu yang kian menjauh manusia lebih sering lupa bahwa ia sedang singgah dari perjalanan panjang, persinggahan yang melalaikan yang dijadikan Allah sebagai ujian bagi manusia. Harta dan anak-anak serta segala keindahan lainnya, yang mereka cintai dan mereka banggakan, seringkali menjadikan lupa kepada Allah telah menggambarkan keindahan hidup di dunia ini sebagai suatu permainan yang melalaikan, seperti tanaman yang ditumbuhkan oleh hujan yang hijau dan keindahannya mengagumkan para petani. Namun seiring musim yang berlalu tanaman itu akhirnya berubah warnanya menjadi kuning, kering dan mati.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akherat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan-Nya dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadid : 20)

Sangat banyak manusia yang “melampaui batas” sikapnya ketika mereka telah merasa cukup dengan harta yang banyak di genggaman tangannya. Mereka lupa bahwa harta itu adalah amanah Allah yang dititipkan kepadanya. Ketika ia tak bisa menggunakannya untuk kepentingan sabilillah, harta itu hanya akan memperberat bebannya kelak di akherat. Dan manakala ia berlebihan dalam mencintainya, ia akan terlemar jauh dari kasih sayang dan kecintaan Allah. Bahkan dengan tidak sadar ia telah meninggalkan kebenaran dan jauh dari kebajikan. Allah telah memberikan ini kepada manusia agar tidak melampau batas terhadap dunia, dan berlomba mencapai kebahagiaan yang lebih kekal yakni akherat. Karena kebahagian di akherat yang dijanjikan Allah adalah lebih baik bagi manusia. Mari kita perhatikan firman Allah yang artinya :

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas alangit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Agar manusia itu selalu menyadari bahwa keindahan dunia ini hanyalah kesenangan yang sedikit. Hendaknya mereka selalu mengingat bahwa kelak kematian akan menghampiri mereka. Sehingga orang yang tidak banyak harta, tidak merasa dirinya hina, dan orang-orang yang kaya tidak merasa dirinya lebih tinggi. Karena harta itu tidak bisa digunakan untuk mengukur ketinggian derajat seseorang. Bahkan harta itu adalah ujian bagi manusia. Mereka yang tidak bisa melangkah lurus dikarenakan harta yang banyak, bagi mereka siksa yang pedih. Dan Allah tidak pernah memandang hamba-Nya dari rupa (wajah) ataupun banyak dan sedikitnya harta mereka. Allah melihat pada hati dan ketakwaan hamba-Nya. Dan tentang ketakwaan itu hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Karena itu hendaknya setiap hamba menjalani hidup ini dengan kepasrahan sepenuhnya kepada-Nya. Mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah selalu berusaha dan berjuang untuk mendapati keridhoan-Nya. Akan tetapi mereka tidak menyesal akan apa yang tidak dikehendaki Allh baginya, dan tidak terlalu bergembira manakala Allah memudahkan keinginan-keinginan mereka. Karena sebanyak apapun yang diraih oleh seorang manusia di dunia ini ia tetap seorang hamba yang lemah dan tidak akan pernah mencapai segalanya. Dan sebanyak apapun yang diraih oleh seorang hamba di dunia ini pada akhirnya akan ditinggalkannya.

مَااَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِىاْلاَرْضِ وَلاَفِى اَنْفُسِكُمْ اَلاَّفَى كِتبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ,اِنَّ ذلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ . لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلى مَافَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوْابِمَا اتكُمْ وَاللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ . الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab ( Lauhul Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ( Kami jelaskan yang demikian itu ) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai seorang yang sombong lagi membanggakan diri. Yaitu orang-orang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” ( QS. Al Hadid : 22 – 24 )

Peringatan Allah di atas sungguh jelas, agar manusia tidak berlebihan dalam mencintai dunia dan senantiasa ingat akan datangnya kematian. Dan hendaknya manusia memilih “Hayatan Thoyibah” menjadi jalan kehidupannya, yaitu jalan kehidupan dimana seorang hamba senantiasa dalam amal soleh dan keridhoan-Nya. Berbuat kebajikan semata-mata mengharap karunia-Nya, karena bagi mereka ada pahala yang lebih baik sebagai janji Allah.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّه حَيوةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An Nahl : 97)

Ciri-ciri dari Hayatan Thoyibah :

1. Rezki Halal

Dalam Al Qur’an Surat An Nahl ayat 97, Allah berfirman bahwa kehidupan yang baik ( Hayatan Thoyibah ) adalah janji Allah bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Karena itu seorang yang beriman dalam perjuangannya untuk memenuhi kebutuhan hidup pastilah akan menempuh jalan yang benar. Dan usahanya tersebut akan mendatangkan rezki yang halal, berkah dan diridhoi-Nya. Ia akan dijauhkan dari barang-barang haram yang dimurkai Allah, disebabkan ia telah memilih amal-amal soleh sebagai sahabat dalam kehidupannya.

2. Qona’ah

Orang-orang yang beriman dan beramal soleh, yang dalam kehidupannya ia mencari rezki yang halal ia akan mempunyai sifat qona’ah. Qona’ah tidaklah berarti malas dalam berusaha. Tetapi qona’ah adalah sifat seorang yang beriman ketika mereka telah berusaha maksimal, dan menerima apa yang ditentukan Allah baginya. Banyak atau sedikit, mudah ataupun sulit, kebahagian ataupun kesedihan diterimanya dengan keluasan hati dan kesabaran. Ia tidak berduka cita ataupun terlalu gembira. Ia mempunyai sikap yang nyata terhadap dunia dan akherat. Jika ia dalam kesulitan ia tidak membawa persoalannya kemana-mana dengan ngresulo dan keluh kesah. Dan jika dalam kelonggaran, kemudahan ataupun harta yang banyak ia tidak berlebihan, sombong ataupun kikir.

3. Sakinah

Adalah kebahagian seorang hamba yang beriman, dan merupakan kebahagiaan yang lengkap. Manakala ia telah berazam untuk beriman dan beramal soleh. Kemudian ia mendapati rezki yang halal, diterimanya dengan qona’ah penuh kesyukuran. Ia pasti akan menemukan ketentraman dan ketenangan hidup (sakinah). Ini adalah janji Allah yang diberikan pada hamba-hamba pilihan-Nya. Yang mendapat petunjuk dan kecintaan-Nya. Hayyatan Thoyibah adalah jalan mencapai kebahagian di dunia dan akherat.

Semoga tulisan yang sedikit ini bisa menjadi awal perenungan panjang, bahwa dunia yang gemerlap ini tidak akan lama kita singgahi. Kematian sebagai pintu yang dijanjikan-Nya pasti akan datang di hadapan kita. Dan kitapun akan memasukinya dengan segala konsekuensi kehidupan yang pernah kita jalani. Marilah kita hidup menempuh jalan dan sikap yang lebih baik. Memupuk jiwa dengan kesyukuran, menjauhkan diri dari kekufuran. Menyongsong kasih dan cinta-Nya sepanjang saat di dunia dan di akherat.

 

Pengaruh TV Pada Anak

Televisi pada jaman sekarang ini bukan lagi barang mewah seperti 15 tahun atau 20 tahun yang lalu. Dimana pada saat itu satu kampung yang memiliki TV hanya satu orang. Sekarang hampir di setiap rumah televisi pasti menjadi satu perabot yang melengkapi keberadaan rumah tersebut.

Sebagaimana yang kita ketahui acara TV kebanyakan jauh bertentangan dengan agama dan pendidikan. Bahkan acara-acara tersebut akan mengakibatkan banyak pengaruh bagi siapa yang menontonnya. Dan pengaruh yang ditimbulkan oleh televisi pada umumnya lebih banyak pengaruh negatif dibanding positifnya. Barangkali ada satu dua diantara kita yang memilih untuk tidak usah memiliki TV. Keputusan ini tentu saja sangat bagus. Tapi perlu diingat, jangan sampai di rumah kita nggak punya TV, tapi kita biarkan anak-anak melihat TV di tempat tetangga. Tentu saja hal ini semakin fatal, karena orang tua tidak akan bisa cek dan kontroling terhadap apa yang dilihat dan ditonton oleh anak-anaknya.

Satu hal lagi yang harus kita pikirkan ketika kita memilih untuk tidak memiliki TV. Bahwa kita harus menciptakan kegiatan positif sebagai pengganti waktu-waktu yang biasa mereka habiskan di depan TV. Seperti belajar, bermain, berkebun, olah raga dll. Karena kita tidak mungkin mengurung anak-anak kita diruang 4 persegi atau di dalam rumah saja tanpa kegiatan yang bisa membantu perkembangan fisik dan kepribadian anak-anak.

Tidak bisa kita pungkiri, apa yang disuguhkan melalui TV sangat digemari anak-anak. Apalagi acara-acara semacam film kartun akan membuat anak betah berjam-jam di depan TV. Hanya dengan memencet remote yang ada di tangan, mereka bisa mengganti acara demi acara yang mereka sukai. Namun apabila dicermati lebih seksama ternyata acara-acara yang dikemas sebagai acara anak tersebut tidak sepenuhnya sehat untuk disaksikan. Apalagi anak-anak belum memiliki kontrol yang kuat terhadap dirinya. Misalnya saja kita lihat banyak adegan permusuhan dalam film “Tom and Jerry”, “Popeye” dan sebagainya. Permusuhan yang diciptakan seolah tak kunjung henti. Berbagai cara dilakukam oleh tokoh film tersebut untuk mengalahkan, menyakiti dan bahkan usaha membunuh tokoh lain. Sekilas adegan-adegan ini memang dibuat lucu dan membuat anak terpingkal-pingkal. Tapi secara tak sadar, anak-anak telah diajari untuk selalu bermusuhan dan berbuat jahat. Adakalanya diselipkan pula adegan percintaan. Hal ini jelas sangat buruk dan merugikan kita para orang tua. Karena anak-anak akan mengenal tentang hubungan dengan lawan jenis sebelum waktunya. Belum lagi tayangan iklan yang sangat banyak dan memamerkan produk dengan teramat dilebih-lebihkan dari kenyataannya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan pola konsumtif pada anak.

Namun begitu bukan berarti kita harus bersikap pesimis dan menyerah begitu saja. Atau bahkan mengambil sikap masa bodoh dengan alasan karena ini memang sudah jamannya. Apalagi setelah kita mengerti banyak sekali pengaruh negatif yang akan terpola pada sikap dan tingkah laku anak-anak kita. Bahkan dengan kebiasaan banyak menonton TV tanpa kontrol, mata anak akan mudah lelah. Kelelahan ini akan mempengaruhi fisik anak secara keseluruhan, sehingga menyebabkan ia malas melakukan banyak hal seperti belajar, bermain dan olah raga.

Beberapa hal di bawah ini Insya Allah bisa kita jadikan tips untuk menghindari banyaknya pengaruh negatif yang bisa ditimbulkan oleh TV.

  1. Memperbaiki pola menonton TV pada orang tua

Sebelum kita koreksi dan perbaiki pola menonton TV pada anak, sebaiknya kita koreksi dulu bagaimana pola kita menonton TV. Karena orang tua adalah figur bagi anak-anak. Apa saja yang dilakukan oleh orang tua akan begitu mudahnya dilakukan anak-anak pula. Kalau orang tua menonton TV kapan saja dan melihat acara apapun tanpa kendali dan tanpa control, tentu anak akan mengira bahwa TV memang suatu yang biasa ada dan sah saja dilihat dan dinikmati kapan saja mereka suka. Kalau orang tua dating darimanapun yang disamperi pertama TV, atau dalam rumah itu pagi, siang, sore, larut malam, dini hari TV terus menerus hidup, maka anak-anak akan meniru pola orang tua menghadapi televisi. Dan mereka akan menganggap TV sebagai suatu pelengkap yang harus ada, dan akan terasa hambar apabila ia tidak ada. Sudah semestinya orang tua berusaha terlebih dahulu untuk mengendalikan diri. Tonton TV seperlunya saja dan lakukan diet menonton TV.

  1. Buat jadwal menonton TV

Buatkan anak-anak jadwal menonton TV. Misalnya Minggu jam 16.00 – 17.00 lihat kartun Dinosaurus, Senin jam 14.00 – 15.00 liaht acara game anak dsb. Dengan begitu anak-anak akan terlatih untuk disiplin serta akan banyak terkurangi waktu mereka di depan TV. Pada awalnya mungkin mereka sangat sulit untuk menepati jadwal yang telah ditentukan, tapi lama kelamaan anak akan terbiasa. Ajaklah anak untuk mendiskusikan berbagai acara anak yang ada di televisi. Berilah penjelasan kepada anak mengapa sebuah acara atau film kartun tidak boleh dilihat. Dan berilah kesempatan anak untuk mengemukakan pendapatnya. Apabila mereka mengajukan usul untuk melihat sebuah acara anak tanyakan alas an mereka memilih acara tersebut. Kalau alas an mereka baik dan tepat tentu sepatutnya kita beri ijin mereka untuk menyaksikan acara tersebut.

  1. Dampingi anak melihat TV

Selama ini kebiasaan kita, kalau anak-anak asyik menonton TV tentu kita bias melakukan banyak kegiatan lain, tanpa terganggu oleh mereka. Tapi jika kita ingin anak-anak tidak terpengaruh oleh hal-hal yang negative yang ditimbulkan oleh TV, maka sebagai orang tua kita harus mendampingi anak saat melihat TV. Dengan demikian kita akan tahu betul acara apa yang disaksikan oleh anak-anak kita. Kalau ada hal-hal yang tidak baik kita langsung bisa katakana pada mereka. Sehingga tidak terjadi sesuatu yang fatal karena kita terlambat mengetahui bahwa apa yang dikonsumsi oleh anak-anak kita adalah tontonan yang tidak sehat.

  1. Kegeiatan pengganti

Saat kita sudah memutuskan untuk merubah pola menonton TV pada keluarga, maka akan lebih baik lagi kalau ornag tua membuat berbagai macam kegiatan pengganti yang disukai anak-anak. Banyak sekali kegiatan yang bisa kita lakukan bersama anak-anak untuk mengurangi kegiatan mereka menonton TV. Beberapa kegiatan di bawah ini mungkin bisa kita jadikan salah satu alternative sebagai pengganti nonton TV.

a. Melakukan berbagai macam permainan.

Banyak sekali permainan yang bisa dilakukan anak-anak seperti sepak bola, monopoli atau berbagai macam permainan tradisional seperti jamuran, gatheng, engklek dsb. Supaya lebih asyik ajak anak-anak tetangga/kerabat.

b. Membuat berbagai macam keterampilan tangan

Pilihlah ragam keterampilan yang mudah dilakukan anak-anak, dan ajaklah mereka membuatnya. Seperti membuat amplop, membuat tas/dompet dari kertas, membuat kartu ucapan selamat

c. Melukis/menggambar

Ajaklah anak pergi ke kebun atau ke tempat terbuka, ajak mereka melukis atau menggambar apapun yang mereka sukai dan mereka inginkan. Apapun dan seperti apapun hasil gambar berilah penghargaan

d. Berkebun

Ajaklah anak-anak mengenal dan mencintai tanaman dengan berkebun. Tanamlah biji-biji apapun atau segala macam tanaman hias pada tanah/pot-pot. Dari hari ke hari tanaman itu akan tumbuh dan berkembang. Tanamkan pada anak rasa syukur serta takjub akan ciptaan Allah.

e. Dan masih banyak lagi

 

 

                                PERNIKAHAN YANG MENJANJIKAN

“Cinta yang penuh nafsu adalah dahaga yang tak terobati”

(Filosofi Khalil Gibran)

Dia (Allah) yang memiliki segala cinta, keagungan dan kesempurnaan. Allahlah yang menciptakan perasaan indah di dalam jiwa puisi-puisi yang tidak semua lahir menjadi kata-kata. Ketika segalanya tetap terjaga dalam “kebaikan”… Sungguh ia jauh dari cela dan keburukan, dan yang menjadi manusia terpuruk dalam dosa, menjadikan ia kehilangan arah langkahnya kemudian jatuh. Padahal yang buruk dan amat jauh dari keridloan-Nya. Kesemuanya itu terjadi ketika kesesatan nafsu telah lebih ia kedepankan daripada cahaya keimanan dan kesadarannya menjadi hamba Allah yang bertakwa.

زُيَّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ,ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيوةِ الدُّنْيَا ,وَاللهُ عِنْدَه حُسْنُ الْمَابِ )14(

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (Syurga)”. ( Ali Imran : 14 )

Dunia ini, harta yang banyak dan para wanita dengan segala keadaannya, kecantikan, kelembutan dan kehalausannya senantiasa menjadikan perasaan seorang laki-laki dilanda galau yang tak berkesudahan. Bahkan ketika perasaan terpikatnya berlebihan, ia tak sadar kehilangan arah dan menempuh jalan-jalan yang keliru. Ia bisa menjadi telah gila. Tapi tak pernah mengerti di mana letak kegilaannya. Dia mabuk dalam waktu yang tak tertentu kesadarannya. Jika keimanan masih di jiwa, dan kita selalu berharap tak pernah ditinggalkannya, maka hendaknyalah memilih jalan yang lebih lurus dan bersih.

“Katakanlah kepada seorang laki-laki yang beriman : hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kehormatannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengerahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya”. (An Nuur : 30-31)

Allah telah memerintahkan dengan kasih-Nya sebagai sang Khaliq, karena Allah lebih mengetahui segala keadaan manusia , agar mereka “menahan pandangan” dan “memelihara kehormatannya”. Kedua kalimat ini sungguh berkaitan erat karena setiap perbuatan yang menjadikan seseorang cela dan hilang harga diri serta kehormatannya pastilah berawal dari pandangan mata yang nistadan mata yang tidak tunduk oleh sikap tawadhu’ dan takwa. Akan tetapi keindahan Islam tidak mencela keinginan seorang pemuda terhadap kelembutan dan kecantikan. Namun Islam jelas menolak pergaulan bebas dan perzinaan. Muhammad Qutub, pernah berkata :”Manakala seorang pemuda yang menginjak puber, merasakan panggilan nuraninya, maka menurut Islam ia tidak perlu berlindung kepada Allah dari perasaan ini. Karena Islam tegas-tegas menyatakan bahwa ini adalah persoalan alami yang tidak perlu diingkari. Oleh sebab itu perasaan tidak perlu ditekan dari keinginan ini hanya supaya dianggap suci oleh masyarakat maupun diri sendiri. Demikian pula ia tidak perlu merasa berdosa hanya karena perasaan ini. Dari sini segala kegoncangan psikologi dan urat syaraf yang timbul sebagai akibat merasa berdosa maupun yang menyebabkan tindak kriminal dalam keadaan ganjil tidak perlu terjadi. Akan tetapi kita tahu bahwa Islam tidak memperbolehkan seserang memenuhi panggilan (naluri) sesenaknya saja. Sebaliknya Islam mencanangkan batas-batas kegal yang mubah di dalamnya tapi haram di luarnya, ini memang benar. Akan tetapi peraturan ini adalah peraturan. Sedangkan tertekan adalah masalah lain. Sebab peraturan ini adalah pembatas ygmengatur aktivitas tetapi tidak mengekangnya dari sumbernya. Juga tidak menghalangi kapanpun juga antara seseorang dengan jiwa atau nafsunya” ( Sayyid Quthub ).

Masyarakat Islam telah sungguh membuktikan kebenaran teori dan ajaran Islam untuk memecahkan setiap masalah dan problematika termasuk masalah dan persoalan yang satu ini, yang sebenarnya menjadi persoalan paling dominan dari waktu ke waktu. Penikahan sebagai jalan bersih yang dianugerahkan Allah dengan segala kesucian dan kebersihannya adalah satu-satunya cara untuk memenuhi panggilan naluri. Jalan ini mudah dan sukarela tanpa memperberat dan menghambat kecenderungan individu. Dan ini pulalah bukti kebenaran Islam yang ajaran-ajarannya selalu memberi kemudahan dan kebahagiaan serta penyelesaian daripersoalan-persoalan yang dihadapinya. Salah satu contoh betapa mudahnya Islam membukakan jalan bagi manusia / umatnya adalah kisah indah di bawah ini yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Wa’dah:

Saya berkunjung ke tempat Sa’ad bin Al Mussayyab salah seorang tabi’in, karena saya sudah lama tidak berjumpa dengan beliau. Beliaupun bertanya ,”Kemana saja anda ini ?”. Saya jawab, “Saya memenuhijanji terhadap keluarga saya, sehingga menjadi sibuk sekali”. Ia berkata :” Mengapa tidak kasihkabar sehingga kami bisa menyaksikan ?”. Abdullah bin Wada’ah mengatakan , kemudian aku hendak berdiri beliau bertanya ,”Apakah anda membutuhkan seorang wanita sebagi calon istri ?” Saya jawab :”Semoga Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada anda . Siapakah yang akan menikahkan saya ? apadahal saya hanya punya dua, tiga dirham”. Beliau menjawab ,”Saya,”. Sayapun bertanya,”Benar anda akan melakukan ?”. Beliau menjawab :”Ya”, Kemudian beliau memuji Allah SWT, membaca sholawat untuk Nabi SAW dan menikahkan saya dengan (mahar) dua, atau beliau mengatakan tiga dirham. Abdullah bin Wada’ah berkata :”Akupun berdiri, kutak dapat membayangkan , betapa bahagianya diriku. Aku pulang ke rumah. Aku berfikir kepada siapa aku berhutang. Kemudian aku sholat maghrib dan pulang ke rumah untuk menyalakan lampu. Berhubung puasa makan malam kupergunakan untuk berbuka dengan sepotong roti dan zaitun. Tiba-tiba saja pintu rumahku diketuk seseorang. Serta merta aku bertanya, “Siapa di luar ?”. Terdengar jawaban,:”Said”, Abdullah bin Wada’ah mengatakan , “Lantas aku mengingat-ingat setiap orang yang bernama Sa’id, yang ada hanya Said Al Mussayab, ini dikarenakan 40 tahun beliau tidak terlihat kecuali anatara rumah beliau dengan masjid. Kemudian aku datang menyongsong si tamu yang ternyata memang Said Al Mussayyab. Aku mengira beliau akan membatalkan tawarannya. Akupun berkata ,”Wahai Abu Muhammad mengapa mesti repot-repot, kalau saja anda kirim surat, kan saya bisa datang ?. Beliau menjawab, “Tidak anda lebih berhak untuk di kunjungi ( daripada anda datang ke tempat saya )”. “Lantas bagai mana persoalannnya ?,”, tanyaku.. Lantas beliau menjawab :”Berhubung anda ini adalah pria yang lajang maka anda akan saya nikahkan. Sebab saya tidak senang jika anda menghabiskan malam-malam berlalu hanya seorang diri. Ini adalah istrimu. Tiba-tiba gadis itu berdiri di belakang beliau yang kemudian beliau persilahkan mendekat pintu. Kemudian ia saya bawa masuk, ternyata gadis itu adalah wanita yang amat cantik begitu hafal Al Qur’an dan amat mengetahui sunah Rasulullah serta hak suami.

Yang menarik sebagai catatan adalah bahwa putri Sa’id Al Mussayyab ini pernah dilamar oleh Abdul Malik bin Marwan untuk putranya Al Walid, manakala ia dijadikan putra mahkota, akan tetapi Sa’id enggan menikahkan putrinya dengan Al Walid.

Demikianlah kedatangan Islam benar-benar untuk mempermudah dan bukan sebaliknya mempersulid. Islam tidak memrintahkan agar manusia mengekang panggilan nalurinya dan tidak memberikan ilhambahwa naluri itu kotor dan mesti dihindari. Dengan pernikahan naluri manusia akan diatur dan terarah bersama syarat dan tuntunan yang dibenarkan. Penikahan merupakan sarana ideal, dimana naluri menemukan jawaban seimbang yang sebelumnya merupakan pencarian tanpa batas. Pernikaan tidak akan pernah merusak ketentraman dan bangunan moral dalam masyarakat. Pernikahan merupakan arena tumbuh dan berkembangnya emosi-emosi positif dan perasaan-perasaan saling kasih sayang, menyayangi dan menjaga serta rela berkorban untuk pendidikan dan penjagaan generasi baru. Allah telah menciptakan kaum laki-laki, dimana ia memiliki fitroh tertrik dan keinginan untuk dekat dengan wanita sebagai istrinya.

Dan Allah menjanjikan kebahagian bagi setiap hamba-Nya yang memilih pernikahan sebagai jalan yang bersih.

Sabda Rasulullah :

Ada tiga kelmpok orang dimana Allah benar-benar akan membantu mereka, salah satu diantaranya adalah orang yang Affaf yaitu orang yang menikah untuk membersihkkan dirinya” ( HR Tirmidzi , Nasa’I dan Hakim )

Dalam riwayat lain :

Barang siapa mencintai fitrahku maka ia harus melakukan sunahku diantaranya sunahku adalah menikah”. ( Al Baihaqi )

Demikian Allah dalam pernikahan ada janji dan keridloaan Allah. Ada pahala bagi mereka yang menempuhnya. Maka janganlah anda takut dan rekoso untuk menjalaninya karena jika telah diniatkan untuk dan karena Allah, Dia pasti membukakan jalan yang luas dan memberi kemudahan

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: